Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2009

Mufaraqah dalam Hidup Bernegara

Melihat situasi politik kenegaraan --baik di pusat maupun daerah-- sepertinya berjalan tanpa arah, maka saya tumpahkan kegalauan itu. "Mengambil keputusan adalah hak pemimpin. Mengingatkan pemimpin akan keputusan yang salah adalah hak rakyat. Kalau dak mau diingatkan, ya udah..., rakyat berhak memutus hubungan (mufaraqah) dengan sang pemimpin." Demikian status FB saya ter-publish, di sebuah pagi.
Seperti biasa komentar banyak muncul, dari yang sekadar merespon hingga yang mencoba mengajak serius. Seperti biasa pula, komentar adalah sesuai dengan 'situasi' facebooker atau apa yang sedang dia pikirkan. Dan semua saya pandang sebagai sebuah respon hebat atas kerisauan saya. Seorang kawan, yang saya ketahui adalah pegiat demokrasi di tingkat lokal, merespon statusnya dengan sebuah pertanyaan menantang. "Tolong diajari carane biar gak anarkis," tulisnya.
Dalam litaratur ilmu fiqh ubudiyah, terma 'Mufaraqah' berada dalam hukum shalat jama'ah. Apabila ma…

Menjadi NU 'Tepat Waktu'

Bagi yang sempat mengenal lebih dekat dengan suasana kepengurusan cabang NU Kabupaten Pasuruan, maka akan tahu bahwa ada sebuah tradisi baru yang ingin diciptakan: datang tepat waktu. Setidaknya itulah, garis yang ditegaskan dan dimandatkan kepada pengurus oleh Rois Syuriyah KH. AD. Rohman Syakur, ketika pertama kali rapat pengurus hasil bentukan formatur konferensi.
Mulanya, garis itu dianggap sebagai ‘saran’ seperti biasanya mau’idzah yang sering kita dengar. Namun baru disadari bahwa itu ‘Bukan Petuah Biasa’, ketika ternyata di kemudian hari komitmen itu ditagih implementasinya kepada segenap pengurus. Cara menagihnya pun bervariasi. Rois datang tepat waktu, sementara pengurus lain molor dengan jam karet kesukaannya, dan tentu tanpa rasa bersalah. Pada kesempatan lain, ketika ada pengurus yang datang lebih awal, maka beliau akan berkata, “Saya kalah, sampeyan menang”. Atau suatu saat, Rois akan hadir di kantor di luar hari Rabu, hari piket beliau, dan kepada kami beliau akan berkata…

Aku Sekadar Menyampaikan...

Kadang aku merasa, sistem ragaku bak sebuah DVD Player. Alat pemutar audio visual, dengan content yang tetap. Aku harus 'membunyikannya' di hadapan kumpulan orang-orang. Dari satu titik ke titik lain.
Tak terasa diriku sudah terlalu banyak bicara. Berbicara sesuatu yang sama. Dari satu forum ke forum lain. Memang lakon ini, tak semata tergerak dari energi pribadi. Ada sebuah misi mulia milik bersama, realisasi dari kesepakatan akan sebuah idealisme praksis yang harus aku jalankan. Tapi, tak pikir-pikir kok jadi aku yang banyak bicara.
Bicaraku sih, memang tak segombal pidato politik. Walau dak jauh-jauh amat dengan penjual obat. Selalu saja ada bumbu, yang harus aku tebar demi menuntun logika khalayak. Entah itu humor, atau jurus SDSB (sok dekat, sok baik). Tapi itu bumbu, agar mereka tak bosan mengikuti 'omelan' panjangku.
Bicaraku panjang, bahkan terlalu panjang. Bisa hampir 2 jam. Edan... Tapi sayang, baru aku sadari, ketika forum udah bubar. Entah apa yang ada di bena…