Skip to main content

Posts

Nyai Amilah

Inilah manakib (biografi) seorang ulama perempuan bernama Nyai Amilah binti Umar. Lahir dari ketulusan masa lalu, dari rahim seorang ibu bernama Nyai Hafshah dan seorang ayah bernama Umar yang di masa senjanya sering melamun: kelak di tanah leluhur tinggalan Sang Ibu, Mbah Pilatun akan berdiri tegak pondok pesantren, yang diasuh anak cucunya. Angan-angan seorang petani desa. 

Pak Umar dikenal baik dan dermawan. Dia lebih sering dipanggil Pak Sukar, nama pinjaman 'karang anak' dari putra pertamanya bernama Sukar yang ternyata tak berumur lama. Maka jadilah Pak Sukar dan Mbok Sukar, sepasang suami istri di sebuah desa yang sunyi kuat berbalut tradisi Madura, bernama Karangpandan. Di awal-awal tahun 1920-an, Adik Sukar lahir, diberi nama Amilah. Amilah bisa bermakna Perempuan Yang Suka Bekerja. Tapi Amilah juga bisa berarti Perempuan Pewujud Angan-Angan Sang Ayah.

Maka Amilah pun disiapkan menjadi pemilik Ilmu dan juga pejuang ilmu. Amilah kecil pun dikirim mondok di sebuah La…
Recent posts

Jalan Cahaya Kartini

Sepertinya akan lebih bermakna, bila membaca Kisah Hidup Raden Ajeng Kartini dari sisi pemahaman mendalam almarhumah terhadap idiom Dari Gelap Menuju Cahaya. Filosofi ‘Cahaya Setelah Kegelapan’ dipahami dari sebuah Kitab Tafsir Berbahasa Jawa Pertama di Dunia, dicetak pada November 1893 oleh Percetakan HM Amin Singapura. Di sampul kitab setebal 503 halaman berjudul Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid Dayyan itu tertera jelas sang mushannif, KH. Sholeh bin Umar Assamarani. Kyai Sholeh Darat, beliau biasa disebut. Darat adalah nama Desa tempat pesantrennya berada. Assamarani adalah Semarang. Kiai Hebat. Bagaimana tidak dua murid beliau kelak menjadi Muassis dua organisasi Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Tidak seperti puluhan atau bahkan ratusan judul buku berbahasa dan terbitan Belanda yang sudah dilahap Kartini sebelumnya, Kitab Tafsir Alqur’an Bahasa Jawa ini begitu menarik hatinya. Kartini bahkan menjadi Asbubul Wurud, musabab penting sampai ak…

Mbah Kyai Yahya di Sebuah Pagi Idul Fitri

Marilah sejenak kita menembus putaran waktu. Merasakan hidup di era Mbah Kyai Yahya, separuh abad silam. Seorang ulama’ bijak yang sangat dihormati. Memangku dan meneruskan estafet Pesantren Gading Malang dari mertuanya Mbah Kyai Abdul Majid. Diambil menantu, karena dalamnya ilmu dan tingkah laku Yahya muda yang terpencar dari setiap gesture tubuh hingga senyum dan kata santunnya. Yahya Muda adalah pencari ilmu sejati, menghabiskan usia di kawah candradimuka bersama para punjaraning jagat. Mulai Waliyullah Mbah Muhammad Thohir di pesantren Bungkuk Singosari, hingga Kyai Dahlan dan Kyai Ihsan di Pesantren Jampes Kediri. Di era Kyai Ihsan inilah, Yahya muda sosok kepemimpinan dan keilmuannya mulai kentara. Menjadi Lurah Pondok, semacam manajer untuk menjalankan tugas mengelola pesantren dan memimpin para santri istiqamah mencari ilmu, mengatur laku dan berburu berkah guru. Tak biasanya, Pagi itu Mbah Kyai Yahya keluar dari gerbang pesantren hampir bersamaan kala mentari mengintip ca…

Nyatakanlah Cinta, dengan Tarawih

Kota Madinah Al Munawwarah, di sebuah malam yang sejuk dan tenang. Rasulullah beranjak dari kediaman menuju Masjid Nabawi, yang hanya beberapa langkah. Kala itu bulan Ramadhan. Di dalam Masjid, Rasulullah bermunajat, memaknai bulan mulia itu dengan shalat malam. Para sahabat mengamati, mengikuti dan membincangkannya. Kabar tersiar, hinggai malam ketiga, Masjid Nabawi pun riuh dengan Sahabat dari penjuru kota yang shalat malam bersama panutan mereka. Malam hampir pagi. Namun Rasulullah tak juga hadir di dalam Masjid. Ada tanda tanya, tapi tak berani bertanya, apa lagi mengetuk pintu kediaman Sang Junjungan. Para sahabat akhirnya melaksanakan shalat malam, sendiri-sendiri, berpacu dengan shubuh yang segera menjelang. Tak lama, Rasululullah tiba, hampir bersamaan dengan adzan shubuh dikumandangkan. Dan shalat jamaah shubuh pun dihelat dengan khusyu’, mewarnai cakrawala pagi Ramadhan hari keempat. “Aku sadar, semalam kalian menungguku. Tapi sengaja, aku tidak keluar.” Kalimat itu disa…

Laga Seru El Classico: #Elberkah Nyaris Imbangi #RealKarsa

Pertandingan Elclassico dalam Liga #PilgubJatim2013 berlangsung seru dan menarik.: #RealKarsa vs #Elberkah diprediksi (kuat) berakhir: 4-3. Hujan Goal! Penonton dan Komentator pun senang. Liga #PilgubJatim2013 tentu tdk seru kalo #Elberkah tak lolos ke putaran final. Pertandingan pasti tak seimbang. Gak menarik, tak layak tonton, dan golput pun akan (semakin) tinggi. Lagi Pemenangnya akan jumawa. Apresiasi perlu dberikn pada Badan Liga, pengadil n instruktur pertandingan, dalam hal ini #KPUDJatim dan semua perangkat Pilkada atas upaya optimalnya selenggarakan #PilgubJatim2013. Berbagai kekacauan dan dinamika yang terjadi adalah keberisikan perjalanan kontestasi politik yang memang selalu rumit dan ramai. Bagi #RealKarsa keunggulan (Quick Count) ini tentu bernilai istimewa, untuk menebus dan menyempurnakan ’kemenangan’ 2008 yang agak berbau tak sedap, dengan aksi diving, offside hingga pengaturan skor yang sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Jawa Timur. Kalau nantinya K…

Pesantren Mainstreaming Policy

Hampir 15 tahun reformasi di Indonesia, belum ditemukan tanda-tanda negara dalam hal ini pemerintah pusat dan daerah secara signifikan mengarusutamakan kepentingan masyarakat pesantren dan warga NU. Fenomena ini terlihat dari penempatan masyarakat hanya sebagai obyek politik terutama jelang kontestasi demokrasi, namun diabaikan ketika sebuah kepemimpinan negara dijalankan selama lima tahun. Kondisi ini membahayakan nasib demokrasi yang menghendaki adanya jaminan bagi terciptanya kemaslahatan bagi masyarakat. Hal ini menjadi salah satu rekomendasi dalam seminar Nasional 'Pesantren Mainstreaming Policy': Mengarusutamakan Kepentingan Masyarakat Pesantren dalam Kebijakan Daerah yang digelar oleh Lakpesdam NU dan Pimpinan Cabang ISNU Kabupaten Pasuruan, Sabtu (12/1) kemarin di Graha NU Warungdowo, Pasuruan. Seminar yang dihadiri utusan pesantren dan kepengurusan NU se Kabupaten Pasuruan itu menghadirkan Prof. M. Mas'ud Said (Staf Ahli Staf Khusus Presiden RI) dan Prof. Ahmad…

Sindikasi Media-Media NU

Liberalisasi ekonomi di Indonesia berakibat pada penguasaan sektor strategis oleh pihak swasta terutama swasta asing. Eksistensi kita sebagai bangsa menjadi terancam. Bila tak ada perlindungan memadai dari negara, maka bisa dipastikan rakyat Indonesia akan menjadi obyek langsung liberalisme dan kapitalisme dunia.

Salah satu sektor strategis yang hampir sepenuhnya dikuasai swasta (domestik dan asing) adalah sektor media. Oligopoli industri media telah membawa Indonesia pada ancaman serius di bidang kebudayaan mengingat industri media lebih menempatkan aspek bisnis sebagai misi utama mengesampingkan aspek budaya baik berupa norma sosial maupun agama.

Sinyalemen Pakar Komunikasi Massa Dennis Mc Quail: conten of the media always reflects who finance them (isi media apa kata siapa pemilik media) benar-benar terbukti. Ketika Media dimiliki oleh kaum kapitalis (sebagian di antaranya kapitalis media internasional), maka pesan yang keluar dari media (cetak, elektronik dan internet) lebih be…