Skip to main content

Pesantren, Mata Rantai Ilmu dan Obsesi Para Shaleh Terdahulu

Dari para shaleh terdahulu, kita telah diwarisi energi dan kebaikan. Pondok Pesantren adalah salah satu warisan itu. Ia tak sekadar lembaga pendidikan, melainkan gugusan mata rantai sanad keilmuan agama yang memungkinkan kita tersambung dengan Sang Agung Muhammad SAW. Saya akan bercerita tentang sebuah Pesantren di sebuah pedesaan Kabupaten Pasuruan. Walau di pelosok dan sering diledek Mewah (Mepet Sawah), pesantren ini menawarkan sebuah obsesi yang melampaui jamannya. Kini, pesantren desa ini mudah ditemukan, seiring melebarnya akses tol di Pulau Jawa. Di sisi kiri Jalan Tol Trans Jawa Ruas Pasuruan-Probolinggo, tepatnya di KM 800an, Anda akan menemukan pesantren itu, di bibir jalan tol. Dari Mewah, menjadi Mentol (Mepet Nian Jalan Tol)! 

Pesantren Darul Ulum Karangpandan berdiri dan didirikan pada 1952 oleh Kyai Hasyim Thoha dan KH Ma'shum Almubarak. Paduan duet mertua dan menantu yang mengejawantahkan konsepsi Alqur’an: Wajahidu bi-amwalikum wafisukum. Berjuanglah kalian, di jalur harta dan juga jiwa (ilmu, diri). Kyai Hasyim Thoha, ulama bersahaja, juga petani dan saudagar hasil bumi. Mondok sejak muda pada Kyai Thoyyib dan Kyai Ghofur, Bugul Pasuruan. Ayahnya, Haji Thoha adalah Kiai Kampung yang sehari-hari mengajar santri di surau milikinya di Dusun Manik, Desa Manikrejo, tak sampai 1 km sebelah timur lokasi pesantren saat ini. Haji Thoha menginginkan putra sulungnya menjadi penerus nyala obor Islam di pelosok desa itu. Maka Kiai Thoyyib Bugul, yang tak lain adalah santri Kiai Kholil Bangkalan menjadi pilihan untuk memondokkan Hasyim muda. Setelah menikah, Kiai Hasyim masih terus menimba ilmu kepada beberapa Kiai, termasuk kepada Kiai Ghofur, santri Hadratus Syekh Hasyim Asy’ary. 

Obsesi Haji Thoha dari Suraunya di Dusun Manik, bertemu dengan idealisme Umar atau Pak Sukar, seorang tokoh Desa di Karangpandan yang memandang penting pusat keilmuan di desanya, melengkapi sebuah masjid yang sudah berdiri. Masjid itu dinisiasi bersama para sesepuh desa. Ada nama Mbah Drawi (yang mewakafkan tanah) dan Haji Sidik (Shiddiq), Kiai Kampung sumber ilmu di kampungnya, paman Pak Sukar. Para sesepuh itu pula yang berinisiasi mendirikan sebuah pusat tafaqquh fiddin (di Karangpandan Selatan) dengan menghadirkan seorang Kiai dari Porong Sidoarjo, bernama Kiai Nafi’ (dibaca Kiai Nafek, wafat dan dimakamkan di Porong), yang kemudian dilanjutkan dengan menghadirkan Kiai Abuamar. Bisa tergambar, kuatnya spirit keagamaan di desa yang konon dibuka (dibabad alas) oleh seorang Buju’ (perintis dakwah Islam dari Madura, penerus Sunan Cendana Kwanyar) bernama Buju’ Dhemmang (diperkirakan berasal dari nama Abdurrahman). 

Pak Sukar adalah keponakan Haji Sidik, dinikahkan dengan Khofsoh (keponakan Bu Haji Sidik) memiliki anak perempuan satu-satunya, diberi nama Amilah. Sejak awal, Amilah disiapkan menjadi penebar ilmu. Setelah dipondokkan ke Macan Putih (Pekangkungan), Amilah dititipkan mondok ke Pesantren Pangadangan di wilayah Kota (kini Jalan Mawar). Pengadangan, salah satu sentra ilmu dan dakwah Islam, karena di situ terletak situs ‘Langgar’ (surau) tempat mengaji diasuh masyayikh orang tua Kiai Ahmad Jufri (pengasuh Pesantren Besuk Kejayan dan Rois Syuriyah NU Pasuruan).  

Amilah binti Pak Sukar yang memperoleh ilmu dari Pondok Pengadangan akhirnya dinikahkan dengan Hasyim bin Haji Thoha, santri Pondok Bugul, menjadi pengantin ilmu, melalui perjodohan yang digerakkan oleh semangat dakwah Islam Haji Thoha dan Pak Sukar. Bahkan Pak Sukar menyiapkan beberapa bidang tanah dan sawah peninggalan dari Sang Ibu, Mbah Pilatun untuk kebutuhan perjuangan ilmu, dan menyerahkannya kepada sang menantu Hasyim, sebagai generasi penerus dari para sesepuh desa. Amilah dan Hasyim memulai bersilat menebar ilmu, mewujudkan obsesi Haji Thoha dan angan-angan Pak Sukar. Hasyim di depan, Amilah di belakang. Hasyim memimpin rumah tangga, membangun jaringan dan berdiplomasi, Amilah menggalang dan memimpin perempuan desa agar mengenal agama dan menerapkannya dalam kehidupan duniawi sehari-sehari. Seperti para Bunyainya, Amilah memiliki Langgar di samping timur Ndalem yang kelak menjadi pesantren putri.

Sejarah mengalir, mempertemukan para shaleh di satu medan perjuangan. Keinginan kuat Hasyim untuk menyiapkan generasi ulama, tersambung dengan seorang ustadz muda bernama Ma’shum, santri Pondok Sidogiri di era pasca Kiai Nawawi Nur hasan, yakni saat Sidogiri dipimpin kiai Abdul Jalil, Kiai Abdul Adzim dan Kiai Sa’dullah Nawawi. Kiai Sa’dullah adalah salah satu komandan Pasukan Hizbullah yang bergerilya melawan Belanda dan sekutu yang mau kembali menguasai Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan 1945. Ma’shum muda masuk dalam pusaran heroisme kaum santri di masa itu. Pasca revolusi, Ma’shum muda dikirim menjadi semacam guru tugas, ustadz yang dihadirkan menyebar ilmu di Karangpandan. Di masa inilah Kiai Hasyim, bertemu dengan Ma’shum muda, pertemuan yang berakhir dengan perjodohan. Putri pertama Kiai Hasyim dan Nyai Amilah, bernama Hamimah dijodohkan dengan Ma’shum muda. Setelh menikah, nama Hamimah diubah oleh Kiai Ma’shum menjadi Husniyah, dan menjelma menjadi Nyai Husniyah. 

Babak baru sejarah berikutnya sedang dimulai. Kiai Ma'shum mulai mendesain pesantren ini secara keilmuan. Keistiqamahan, kesungguhan dan kemanfaatan ilmu menjadi bekal beliau berjuang. Duet Kiai Hasyim-Kiai Ma'shum sangat ideal. Kiai Hasyim menyiapkn fasilitas dan relasi masyarakat, yang memungkinkan Kiai Ma'shum fokus pada keilmuan dan pembinaan para santri. Ada satu terobosan penting yang tak banyak dilakukan oleh kalangan pesantren, khususnya di Pasuruan, yakni pendirian lembaga pendidikan formal. Pesantren ini adalah salah satu yang pertama bagi pendidikan formal di pesantren di samping metode salaf kitab kuning. Trigger atau pemantiknya adalah program MWB atau Madrasah Wadjib Beladjar, program yang diinisiasi oleh Jam'iyah Nahdlatul Ulama melalui KH Abdul Wahid Hasyim pada tahun 1950-an. Dari MWB pada 1952 itulah, maka Pondok Karangpandan ini menjadi berkembang dari sekadar santri langgaran, santri kalong (nyantri hanya di malam hari) atau sekadar ngaji kitab kuning wetonan atau sekadar pengajian rutin di masjid bersama masyarakat dusun.

Ketika Pesantren melengkapi diri dengan layanan pendidikan yang dibutuhkan masyarakat, baik formal maupun salaf, maka keberadaannya akan kian kuat tertancap di hati masyarakat. Keberadaan pesantren benar-benar menjadi solusi. Bagi masyarakat, cukup ke pesantren untuk mengasah dan menyiapkan generasi paripurna yang siap bersaing di semua medan kehidupan. Untuk menyiapkan generasi penerus pesantren, pada 1960-an Kiai Hasyim mengirim putra-putri beliau, yakni Ahmad Hafidz dan Mahmudah mondok ke Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. DIikuti oleh putri bungsunya, Hijratul Mukarromah serta beberapa anak kerabat Kiai Hasyim. Hasil ekspedisi dan pendadaran pendidikan inilah yang kelak menjadi Pengasuh Generasi kedua, setelah Kiai Hasyim wafat pada tahun 1974 dan Kiai Ma'shum pada 1986 yang kemudian estafet kepengasuhan diteruskan oleh KH Hafidz Hasyim.

Pada akhir 1960an atau kisaran awal 1970an, pesantren ini diberi nama Darul Ulum sebagai tabarrukan pada Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang khususnya pada Almursyid Kiai Romly Tamim dan Dr. KH Mustain Romly. PP Darul Ulum Karangpandan bisa dikatakan sebagai kelanjutan PP. Darul Ulum Jombang. Tidak hanya di bidang pendidikan yang melengkapi pendidikan pesantren dengan lembaga pendidikan formal dan modern, tetapi juga dalam hal pendidikan ruhani masyarakat melalui Jam’iyyah Thariqah. Darul Ulum Karangpandan menjadi salah satu yang ditunjuk menjadi Imam Khususi untuk pengamalan dzikir thariqah Qodariyyah wa nadsabandiyah yang berpusat di Pondok Njoso (nama lain PP Darul Ulum Rejoso Peterongan) dengan mursyid utamanya, KH Romly Tamim yang diteruskan oleh Kiai Mustain Romly, guru Kiai Hafidz Hasyim.

Setiap perjuangan akan menemui masa-masa sulit. Masa penting penting pesantren di masa sulit itu terjadi pada era 1970-1980-an, dimana duet Kiai Ma’shum dan Kiai Hafidz Hasyim akibat situasi politik yg dinamis. Namun berkat kegigihan, kesabaran, kedalaman ilmu, soliditas internal situasi sulit itu bisa teratasi dengan hasil perkembangan pesantren yang cemerlang. Pesantren ini tercatat sebagai salah satu pesantren pelopor yang melenggarakan pendidikan formal di pesantren, melengkapi madrasah salafiyah kitab kuning sebagaimana pesantren umumnya. Dari MWB di tingkat dasar/Ibtidaiyah itu kelak menjelma menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum yang menggunakan kurikulum Departemen Agama (kini Kementerian Agama) dan menjadi salah satu yang pertama, khususnya di Pasuruan Timur. 

Dari MI yang cikal bakalnya lahir pada 1952 (dan ditetapkan sebagai Tahun lahir PP Darul Ulum Karangpandan), pendidikan formal di pesantren terus tumbuh, Madrasah Tsanawiyah (MTs), berdiri tahun 1972. Sementara Madrasah Aliyah (MA) Darul Ulum berdiri tahun 1992 yang alumninya sudah banyak yang menyelesaikan program sarjana, magister, bahkan doktoral. Mulai 2019 dibuka unit pendidikan baru SMP Darul Ulum untuk melayani kebutuhan pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sempat pula berdiri Perguruan Tinggi/S1 kerjasama dengan Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang pd 2000-an, sebelum akhirnya pendidikan tinggi para santri dikerjasamakan dengan Perguruan Tinggi milik PCNU Kabupaten Pasuruan, yakni Institut Teknologi dan Sains (ITS NU) dan STAI Shalahudin Pasuruan. 

Di samping itu, kelengkapan pendidikan untuk santri terus bermunculan. Taman Kanak-kanak (TK, di bawah binaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) berdiri tahun 1976, berlanjut dengan sekolah pre ementary lainnya, yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Taman Pendidikan Alqur’an (TPQ) di Pesantren ini menjadi sentra pusat pengembangan Metode Pengajaran Alqur’an TARTILA yang dikembangkan oleh Jam’iyyatul Qurro’ Wal Huffadz (JQH), sejak Kiai Ishomuddin Ma’shum menjadi ketua PC JQH NU Kabupaten Pasuruan. 

Pondok Pesantren Darul Ulum Karangpandan tak hanya terkenal di bidang pendidikan formal dan kepesantrenan semata, tetapi juga di bidang unit kegiatan santri. Gerakan Pramuka cukup berkembang di pesantren ini, bahkan sudah memiiki Gugus Depan tersenidri 455-456. Demikian pula dengan keteram Seni Bela Diri Pencak Silat Pagar Nusa, Seni Hadrah ISHARI dan Albanjari. Bahkan Pesantren ini pernah memiliki group Samrah atau Qasidah yang berjuluk Dakwatus Shalihah, yang pernah mewakili Kabupaten Pasuruan dalam kompetisi tingkat Regional Jawa Timur.

Sebagai pelanjut kepengasuhan pasca Kiai Ma’shum Almubarok, Kiai Hafidz Hasyim terkenal alim-‘allamah, ilmunya mendalam dan luas, bacaaan referensinya melebihi rata-rata kiai, dilengkapi ilmu balaghah, manthiq dan bahasa arab hingga bahasa Inggris menjadi Kiai Hafidz Hasyim disegani oleh semua kalangan dengan kemampuan orasinya yang tinggi. Pengalamannya di Departemen Agama dan DPRD Kabupaten Pasuruan menjadikannya mampu menjadikan ilmu pesantren sebagai sumber inspirasi, tak hanya di dalam pagar pesantren, tapi juga bagi kalangan luas. Dengan intelektualitasnya, sebagai pengasuh, Kiai Hafidz menekankan kualitas keilmuan lulusan pesantren. 

Mulai era beliau, Pesantren ini menjadi rujukan untuk memperdalam keilmuan fiqh, ilmu alat hingga tashawwuf dan thariqah. Kealimannya benar-benar diakui dan disegani. Mulai akhir 1990-an, Pesantren Darul Ulum Karangpandan menjadi lokomotif penting penggerak organisasi Nahdlatul Ulama ditingkat PCNU Kabupaten Pasuruan dan PWNU Jawa Timur. Bahkan Kiai Hafidz Hasyim didaulat menjadi Rois Ifadliyah Idarah Aliyah (Pimpinan Cabang) JATMAN (Jam’iyah Ahli Thariqah Almu’tabarah Annahdliyah) Kabupaten Pasuruan dan Ketua Lajnah Bahtsul Masail JATMAN Jawa Timur.

Tahun duka terjadi pd 2010, saat Kyai Hafidz Hasyim wafat. Berat rasanya, bagi keluarga besar civitas ma’hadika Darul Ulum yang sebenarnya belum siap ditinggal berpulang. Kiai Ishomuddin Ma'shum menjadi  penerus tongkat estafet kepengasuhan. Beliau putra Kiai Ma'shum Almubarok yang diambil menantu menantu oleh pamanda, Kiai Hafidz Hasyim. Sebagai pengasuh generasi ketiga, Kiai Ishomuddin Ma'shum terbukti mampu membangkitkan spirit baru penataan manajemen dan pengembangan pesantren. Semua menjadi lebih tertata dengan generasi baru yang lebih siap berhadapan dan menghadapi dunia baru. 

Di era global, pesantren harus lebih fokus dan percaya diri untuk kian mengukuhkan kualitas pendidikannya sembari mengenalkan pada khakayak luas. Pengalaman hampir 70 tahun sebagai lembaga pesantren yang menggelar pendidikan formal adalah modal berharga untuk terus meningkatkan kualitas keilmuan, penataan manajemen, kreatifitas pengembangan pesantren. Pondok Pesantren Darul Ulum Karangpandan telah membuktikan diri sebagao bagian penting dari lembaga tafaqquh fiddin, sekaligus pembangkit energi misi ulama sebagai pewaris Nabi Muhammad SAW, khususnya di bumi nusantara.

Comments

Popular posts from this blog

#tentangAyah: Gus Dur di Mata-Hati Alissa Wahid

Dalam kesempatan bertestimoni #tentangAyah, di nuansa Hari Ayah (Father’s day) yang biasa diperingati pada pekan ketiga bulan Juni, Alissa Qatrunnada Wahid, putri pertama KH. Abdurrahman Wahid bercerita tentang ayahanda tercintanya. Kesaksian Mbak Lisa melalui rangkaian tweet (yang sengaja saya sambung satu persatu) di jaringan social twitter, membuat para followernya (termasuk saya) termenung, terhenyak dan trenyuh, dengan kisah pandangan mata yang nyata di balik kebesaran nama almarhum. Gus Dur seorang yang sederhana, tidak berlebih secara materi, dan (yang terpenting) hatinya bersih, putih dan bening, sebening salafunas shalihin. Gus Dur adalah pejuang, mujahid untuk orang banyak. Jadi wajar kalau beliau dicintai khalayak. Kepada kita, Alissa berpesan agar pengikut dan pendukungnya bisa meneladani dan meneruskan perjuangan beliau. Berikut penuturan lengkap Alissa Wahid: Ayahku bukan hanya milikku. Anak ideologisnya banyak sekali. Membuatku merasa nyaman, karena d

Televisi dan Keresahan Para Kiai

Berbagai stasiun televisi lokal mulai bermunculan di Jatim. Di antara mereka, menyembul TV9 milik PW NU Jatim. Televisi itu lahir lantaran sejumlah kiai resah atas maraknya acara TV yang nilai-nilainya cenderung luntur. LAYAR televisi itu menyajikan gambar laki-laki tua dan muda duduk membawa rebana. Mereka mengenakan baju koko. Di sebelah gambar itu ada sosok pria dan wanita yang mengatupkan tangan sebagai tanda salam. Intinya adalah tulisan di antara dua gambar itu. Yakni, Santun Menyejukkan . Tagline tersebut ditampilkan pada 31 Januari saat TV9 diresmikan Gubernur Jatim Soekarwo di Jalan Raya Darmo 96. Bangunan itu merupakan kantor lama PW NU Jatim. Di bangunan itulah TV9 kini berkantor. Acara-acara stasiun anyar tersebut memang masih belum mengudara. Sebab, sejumlah peralatan masih dipersiapkan. Di antaranya, pemancar, antena, dan peralatan untuk memperkuat jangkauan tayang. Pemancar itu diletakkan di Kelurahan Sambisari, Sambikerep, berbaur dengan pemancar stasiun televisi

Sindikasi Media-Media NU

Liberalisasi ekonomi di Indonesia berakibat pada penguasaan sektor strategis oleh pihak swasta terutama swasta asing. Eksistensi kita sebagai bangsa menjadi terancam. Bila tak ada perlindungan memadai dari negara, maka bisa dipastikan rakyat Indonesia akan menjadi obyek langsung liberalisme dan kapitalisme dunia. Salah satu sektor strategis yang hampir sepenuhnya dikuasai swasta (domestik dan asing) adalah sektor media. Oligopoli industri media telah membawa Indonesia pada ancaman serius di bidang kebudayaan mengingat industri media lebih menempatkan aspek bisnis sebagai misi utama mengesampingkan aspek budaya baik berupa norma sosial maupun agama. Sinyalemen Pakar Komunikasi Massa Dennis Mc Quail: conten of the media always reflects who finance them (isi media apa kata siapa pemilik media) benar-benar terbukti. Ketika Media dimiliki oleh kaum kapitalis (sebagian di antaranya kapitalis media internasional), maka pesan yang keluar dari media (cetak, elektronik dan internet) lebih