Skip to main content

Darul Ulum Tetap Jaya, yang Melegenda

Sebuah lagu indah, penuh energi digubah, diciptakan oleh seorang ulama perempuan pesantren, almarhumah ibunda,  Allahyarhamha Mahmudah binti Hasyim (1952-2006). Judulnya kira-kira 'Darul Ulum Tetap Jaya', sesuai pesan utama dan kata yang paling sering muncul di dalamnya. Ibu menulis syair hingga menyusun nada lagu untuk pesantren dan santri-santrinya tercinta di PP Darululum Karangpandan, Rejoso, Kab Pasuruan untuk momen HUT pesantren. Diciptakan kisaran waktu 1970an hingga awal 1980an. 

Setiap acara Haflah Imtihan, semacam perayaan (haflah) berakhirnya masa ujian (imtihan), lagu ini dipastikan berkumandang. Ketika ibunda masih ada, biasanya ditampilkan sebagai salah satu nomor lagu dalam perform Group Qosidah 'Dakwatus Shalihah', kelompok seni samroh untuk santri putri yang dibina langsung oleh ibunda bersama ayahanda Ust Abdus Syakur Cholil. Di tahun 2000-an ini, ada yang berinisiatif mengaransemen ala lagu qasidah modern Nasyida Ria, membuatnya menjadi lebih indah, enak dinikmati dan perlu.

Ibu sering bercerita, dalam proses kreatif penyusunan syair lagu, ia berkonsultasi dengan Sang Kakak, KH Hafidz Hasyim (ayahanda Penyair Gus Haidar Hafeez). Maka sah, bila lagu ini dicipta berdua oleh duet #SantriNjoso, kakak beradik ini. Soal dendang lagu, itu mah memang keahlian ibunda. Dengan begitu, Kiai Hafidz adalah pakde, salah satu guru utama saya, dan menjadi santri kinasih Kiai Mustain Romly, PP Darululum Jombang atau sering disebut #PondokNjoso. Pada 1985, Kiai Hafidz  menjadi pengasuh pesantren meneruskan Sang Muassis KH Ma'shum Almubarok yang tak lain kakak iparnya. Kiai Ma'shum sendiri, santri Kiai Abdul Jalil @s1dogiri, dan mendirikan pesantren bersama sang mertua, Kiai Hasyim Thoha. Pengasuh saat ini, KH Ishomuddin Ma'shum, M.Pdi, yang juga penulis buku Sejarah Istighotsah.

Pesantren Darul Ulum Karangpandan, didirikan pada 1952 menyambungkan spirit sanad ilmu KH Romly Tamim dan KH Mustain Romly, dan model pendidikan ala Kiai Mustain Romly #PondokNjoso yang membekali ilmu agama para santri dengan pendidikan formal: Berjiwa Masjidil Harom, Berotak London! Sejak 1952, di Pasuruan dan sekitarnya pesantren ini termasuk yang pertama menggelar pendidikan formal. Saat ini sudah lengkap untuk pendidikan Dasar dan Menengah serta pra sekolah: MA, MTs, SMP, MI, TK, Paud. Layanan perguruan tinggi, bekerjasama dengan ITSNU & STAIS milik PCNU Kabupaten Pasuruan.

Bagi kami dan para santri, lagu 'Darul Ulum Tetap Jaya' ini laksana bagian tubuh sejarah. Syairnya kental dengan HOPE, penanaman semangat belajar, mengejar ilmu dan spirit perjuangan anti rasa takut dan lelah di tengah kerasnya situasi saat itu. Mari kita simak:
------

Tetap Jaya

Darul Ulum Tetap Jaya 
Darul Ulum Tetap Jaya

Ini malam ulang tahun
Madrrasah Kita Darul Ulum
Lindungilah Darul Ulum
Wahai Allah, Allah, Allah

Fardlu 'Ain Cari Ilmu
Walau Bis-Shin Cari Ilmu
Tetapkanlah Imanku 
Ya Alah Allah Allah Allah

Karangpandan Ewallah
Tuangkanlah Ilmu Allah 
Rahmatillah Darul Ulum
Wahai Allah, Allah, Allah

Darul Ulum Banyak Fitnah
Asal Tabah Ahli Jannah
Berkatilah Darul Ulum 
Wahai Allah, Allah, Allah
-----

Minggu pagi tadi, lagu ini dilantunkan secara apik dan epik oleh Tim Paduan Suara 'Darul Ulum Voice' di Wisuda salah satu unit pendidikan, SMP Darul Ulum. Saya merekamnya, lengkap dengan gerak gesture yang koreografinya juga hasil kreasi almarhumah. Di depan kaca almari tua itu, ibunda sering kami saksikan berdendang sambil praktik menari, memastikan koreografinya  layak untuk para santri dalam bertutur pesan luhur lewat seni tari: indah namun santun. 

Dan Video itu saya kirim di group keluarga.
"Mbrebes Mili, Cak.." jawab Haiz, adik perempuan bungsu saya.
"Podho, Iz...," I said.

Ibu, 
karyamu keren...
Karyamu abadi...
I proud of you...
Alfatehah

Comments

Ghufron said…
I love Darul Ulum Karangpandan
Unknown said…
Saya bangga jadi alumni Darul Ulum, Darul ulum memang is the best
Unknown said…
Darul ulum tetap jaya, selalu jaya

Popular posts from this blog

#tentangAyah: Gus Dur di Mata-Hati Alissa Wahid

Dalam kesempatan bertestimoni #tentangAyah, di nuansa Hari Ayah (Father’s day) yang biasa diperingati pada pekan ketiga bulan Juni, Alissa Qatrunnada Wahid, putri pertama KH. Abdurrahman Wahid bercerita tentang ayahanda tercintanya. Kesaksian Mbak Lisa melalui rangkaian tweet (yang sengaja saya sambung satu persatu) di jaringan social twitter, membuat para followernya (termasuk saya) termenung, terhenyak dan trenyuh, dengan kisah pandangan mata yang nyata di balik kebesaran nama almarhum. Gus Dur seorang yang sederhana, tidak berlebih secara materi, dan (yang terpenting) hatinya bersih, putih dan bening, sebening salafunas shalihin. Gus Dur adalah pejuang, mujahid untuk orang banyak. Jadi wajar kalau beliau dicintai khalayak. Kepada kita, Alissa berpesan agar pengikut dan pendukungnya bisa meneladani dan meneruskan perjuangan beliau. Berikut penuturan lengkap Alissa Wahid: Ayahku bukan hanya milikku. Anak ideologisnya banyak sekali. Membuatku merasa nyaman, karena d

Televisi dan Keresahan Para Kiai

Berbagai stasiun televisi lokal mulai bermunculan di Jatim. Di antara mereka, menyembul TV9 milik PW NU Jatim. Televisi itu lahir lantaran sejumlah kiai resah atas maraknya acara TV yang nilai-nilainya cenderung luntur. LAYAR televisi itu menyajikan gambar laki-laki tua dan muda duduk membawa rebana. Mereka mengenakan baju koko. Di sebelah gambar itu ada sosok pria dan wanita yang mengatupkan tangan sebagai tanda salam. Intinya adalah tulisan di antara dua gambar itu. Yakni, Santun Menyejukkan . Tagline tersebut ditampilkan pada 31 Januari saat TV9 diresmikan Gubernur Jatim Soekarwo di Jalan Raya Darmo 96. Bangunan itu merupakan kantor lama PW NU Jatim. Di bangunan itulah TV9 kini berkantor. Acara-acara stasiun anyar tersebut memang masih belum mengudara. Sebab, sejumlah peralatan masih dipersiapkan. Di antaranya, pemancar, antena, dan peralatan untuk memperkuat jangkauan tayang. Pemancar itu diletakkan di Kelurahan Sambisari, Sambikerep, berbaur dengan pemancar stasiun televisi

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang. Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini. Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian ruti