Skip to main content

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang.
Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini.
Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian rutin. Berkeliling dari satu mushalla ke mushalla, dari masjid ke masjid. Dalam satu minggu, pengajiannya penuh, pengajian mingguan. Ba'dal maghrib atau ba'dal Isya'. Ada pula pengajian yang dilaksanakan tiap bulan, atau tiap hari pasaran, seperti ahad wage. Dia sebagaimana kyai 'kampung' lainnya. Tak henti-hentinya menyusuri gelapnya malam, menyampaikan ilmu yang menurutnya wajib disampaikan. Membina batin jama'ah, yang menurutnya telah terancam 'pengajian sinetron' di televisi.
Aku kadang berpikir, bukankah sosok semacam inikah yang menjadi palang pintu, pertahanan akhir aqidah dan etika ummat. Jauh dari selebritas dakwah macam para ustadz gaul, yang lebih mirip artis dari pada pendakwah agama. Kalaupun dia mendapat sedekah dari ummatnya, tak lebih hanya sekadar 'kepantasan' yang tak diukur dengan nilai kontrak dan rating acara TV. Dia punya visi: Ilmu harus diamalkan, orang tidak tahu agama harus dituntun dan didampingi menuju jalan ke surga.
Jadi kalau kemudian dia telepon, setengah gagap aku menjawab. "Mas Hakim, bagaimana sikap NU tentang pilkada ini? Banyak ummat bertanya". Terus terang, aku seperti kehabisan kata-kata untuk menjawab. Meskipun mudah menjawabnya, andai bukan dia yang bertanya. Sebagai kyai yang setiap hari menungguin ummat, dia adalah tempat bertanya. Tentang segala hal: mulai nama bayi yang baru lahir, hingga jawaban terhadap suatu permasalahan. Mulai konsultasi keluarga, hingga pilihan politik.
Dia mengaku pusing dengan kondisi politik saat ini. Ummat kadang belum siap untuk berbeda. Ummat resah, setiap kali menghadapi agenda demokrasi. Dia ingin melindungi ummatnya, dari keresahan itu. Dia ingin cari referensi. Dia ingin cari pembenar. Dia ingin jawaban yang diberikan pada jama'ahnya, tidak salah.
Betapa bahagianya beliau, ketika NU bersikap netral dalam setiap agenda politik. Sikap itu menurutnya, adalah yang terbaik bagi NU. Di tengah 'kreatifitas politik' para politisi yang senantiasa menyeret pemimpin ummat. Sambil tersenyum kepadaku, dia bercerita. Tempo hari, telah mengumpulkan seluruh jajaran pengurus MWC NU Rejoso, dimana dia menjadi pemimpin tertingginya. Dia tegaskan, bahwa sebagai rois syuriyah dia akan menjaga NU, akan menunggui NU, dan tidak akan terlibat dalam aksi dukung-mendukung. Sikap itu dia tegakkan. Bahkan ketika harus menghadapi sindiran salah satu kerabatnya yang menjadi salah satu kontestan pilkada 2008. Dia meminta, agar pengurus yang menjadi tim sukses, diharapkan non aktif. "Kalau semuanya menjadi tim sukses, bagaimana kyai," seloroh pengurus lainnya. Dia menjawab: "Ndak apa-apa, biarkan saya sendirian menjadi pengurus MWC!".
***
Di sebuah perhelatan tahlil, aku melihat dia datang. Setengah tak percaya... Karena dalam benakku dia masih dalam kondisi sakit. Sebulan terakhir, dia opname karena penyakit jantung. Dia datang, dengan dipapah, dituntun khaddam (istilah pesantren: santri yang membantu di ndalem kyai). Ingin rasanya mengejar, untuk sekadar menyapa dan bersalaman mencium tangan. Aku ingin minta maaf, karena tak sempat membezuknya. Sekaligus aku ingin menghadirkan rasa bahagiaku karena beliau telah sembuh, sehat kembali...
Namun hanya berselang tiga hari, kabar itu datang... Kyai Muhlashon wafat... Terus? Bukankah? Rentetan kalimat tanya itu hampir diucapkan oleh orang yang kutemui. Semua orang selalu menghubungkan dengan kehadirannya di tahlil 40 hari Kyai Jasim. Kyai sepuh, dan paling sepuh di Pasuruan. Mustasyar PCNU. Semua kyai menganggap beliau guru. Termasuk almarhum... Dia menyempatkan hadir, walau tak sembuh benar. Demi sebuah penghormatan dan doa 'terakhir' kepada sang guru. Sekaligus berpamitan, bersalaman kepada para 'koleganya' kyai yang hadir. Tiga hari sebelum dia wafat... Sayang sekali, aku tak sempat menyalaminya...

Comments

Wak Liem said…
Izin share gus...

Popular posts from this blog

Menjadi NU 'Tepat Waktu'

Bagi yang sempat mengenal lebih dekat dengan suasana kepengurusan cabang NU Kabupaten Pasuruan, maka akan tahu bahwa ada sebuah tradisi baru yang ingin diciptakan: datang tepat waktu. Setidaknya itulah, garis yang ditegaskan dan dimandatkan kepada pengurus oleh Rois Syuriyah KH. AD. Rohman Syakur, ketika pertama kali rapat pengurus hasil bentukan formatur konferensi.
Mulanya, garis itu dianggap sebagai ‘saran’ seperti biasanya mau’idzah yang sering kita dengar. Namun baru disadari bahwa itu ‘Bukan Petuah Biasa’, ketika ternyata di kemudian hari komitmen itu ditagih implementasinya kepada segenap pengurus. Cara menagihnya pun bervariasi. Rois datang tepat waktu, sementara pengurus lain molor dengan jam karet kesukaannya, dan tentu tanpa rasa bersalah. Pada kesempatan lain, ketika ada pengurus yang datang lebih awal, maka beliau akan berkata, “Saya kalah, sampeyan menang”. Atau suatu saat, Rois akan hadir di kantor di luar hari Rabu, hari piket beliau, dan kepada kami beliau akan berkata…

Nyai Amilah

Inilah manakib (biografi) seorang ulama perempuan bernama Nyai Amilah binti Umar. Lahir dari ketulusan masa lalu, dari rahim seorang ibu bernama Nyai Hafshah dan seorang ayah bernama Umar yang di masa senjanya sering melamun: kelak di tanah leluhur tinggalan Sang Ibu, Mbah Pilatun akan berdiri tegak pondok pesantren, yang diasuh anak cucunya. Angan-angan seorang petani desa. 

Pak Umar dikenal baik dan dermawan. Dia lebih sering dipanggil Pak Sukar, nama pinjaman 'karang anak' dari putra pertamanya bernama Sukar yang ternyata tak berumur lama. Maka jadilah Pak Sukar dan Mbok Sukar, sepasang suami istri di sebuah desa yang sunyi kuat berbalut tradisi Madura, bernama Karangpandan. Di awal-awal tahun 1920-an, Adik Sukar lahir, diberi nama Amilah. Amilah bisa bermakna Perempuan Yang Suka Bekerja. Tapi Amilah juga bisa berarti Perempuan Pewujud Angan-Angan Sang Ayah.

Maka Amilah pun disiapkan menjadi pemilik Ilmu dan juga pejuang ilmu. Amilah kecil pun dikirim mondok di sebuah La…