Skip to main content

Ngobrol Pluralisme (1): Dimana Perbedaan Harus Ditempatkan?

Gara-gara statusku di FB tentang ketinggalan nonton 'Satu Jam Lebih Dekat' dengan Rhoma Irama di tvOne., aku harus terlibat diskusi yang jauh dari tema itu. Yakni, tentang pluralisme. Hingga dalam pertengahan diskusi, aku masih belum sadar, kalau tema ‘pluralisme’ pernah menjadi kontroversi dalam dunia fatwa di Indonesia.
Awalnya, temen (baru)ku itu berkomentar ‘porto folio’ dalam profilku di FB. Namanya Saiful. Aku Masih belum terlalu kenal dia. Tapi aku yakin, dia orang baik. Sepertinya dia pegiat ilmu social dan demokrasi.

Saiful: gus hakim trnyata msh masuk kaum muda, asyik lht infonya..
Hakim: hehe, saya memang dididik ortu jadi pluralis, sejak kecil. Untuk mengais kebenaran dari manapun. Asalkan, sumbernya dari Allah. hehe...
Saiful: bs diskusi soal pluralisme dong!! waduh knp sy mau jd dkt sm panjenengan, nih gus
Hakim: aku gak ngerti teorinya. ngertinya mung 'udkhuluha bi abwabin mutafarriqah'. hehe
Saiful: sm yg pnting dlm diskusinya kt sdg merayakan perbedaan

Dan… obrolanpun segera mengalir. Aku nerocos saja tentang bagaimana perbedaan harus dipahami. Dan bagaimana manusia memiliki ‘nama tengah’ yang disebut dengan keragaman itu.

Hakim: sebagai 'al basyar' manusia pasti berbeda-beda. itu fitrahnya. wa ja'alnakum, syu'uban wa qaba-ila. allah menyebar manusia dalam etnis dan komunitas. lita'arafu... untuk bersosialisi, berasosiasi dan bergaul. untuk bermubasyarah...
Saiful: iya bner bnget...ttp knp kita atau sebagian dr kita..kebanyakan org slalu dan sering menganggap itu bkn fitrah, bahkan itu perbedaan, sebagai ancaman
Hakim: dan asyiknya, Tuhan tidak menentukan 'siapa yang terbaik' itu dari perbedaan.
tapi dari yang paling berkualitas taqwanya. inna akramakum 'indallahi atqakum..
Saiful: bgamana dengan yang ateis atau penganut tuhan lainnya dimata tuhan terkait dg kualitas takwanya??
Saiful: bgmna seni jaranan menurut panjengan?? knp mereka gak bisa nyapa dg hadroh??
Hakim: belajarlah pada walisongo. mereka profesor dakwah terbaik yang pernah dimiliki Islam di Indonesia. Islam dikemas dalam proses akulturasi yang cerdas dan lembut. nilai 'pembaruan' Islam dan nilai 'ketimuran' budaya jawa, terolah menjadi budaya tanpa judul, yang tak menyinggung siapapun: pribumi jawa dan pendakwah Islam, sama-sama puas. yang harus dicari adalah: apa standar yang harus ada dalam proses dakwah. jawabannya, adalah nilai keimanan itu. iman boleh dibungkus budaya atau seni apapun, atau disajikan menjadi praktik ritual sebagaimana shalat dan manakiban. Nilainya sama 'wama khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun'.. Hal itu pula, yang terjadi dengan diturunkannya 313 nabi dan 124.000 rasul. Mereka semua membawa misi yang sama: misi tauhid, tapi berbeda ruang dan waktu. Otomatis berbeda strategi dan pendekatan. Sama atau berbeda adalah strategi, bukan tema utama yang harus diperbedakan atau harus disamakan
Saiful: nggih..!!tp nasib syeh sti jenar hrus berdarah2, krn ia memilih berbeda dg walisongo

Sepertinya Saiful masih ingin meneruskan obrolannya. Dia mempermasalahkan adanya ‘perbedaan’ di kalangan Walisongo yang mengakibatkan dieksekusinya Syekh Siti Jenar. Waduh, bagi saya itu bahasan menarik lainnya, yang bisa diobrolkan the other time… (semoga bersambung ke bagian-2, hehe..)

Comments

Popular posts from this blog

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang. Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini. Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian ruti

#tentangAyah: Gus Dur di Mata-Hati Alissa Wahid

Dalam kesempatan bertestimoni #tentangAyah, di nuansa Hari Ayah (Father’s day) yang biasa diperingati pada pekan ketiga bulan Juni, Alissa Qatrunnada Wahid, putri pertama KH. Abdurrahman Wahid bercerita tentang ayahanda tercintanya. Kesaksian Mbak Lisa melalui rangkaian tweet (yang sengaja saya sambung satu persatu) di jaringan social twitter, membuat para followernya (termasuk saya) termenung, terhenyak dan trenyuh, dengan kisah pandangan mata yang nyata di balik kebesaran nama almarhum. Gus Dur seorang yang sederhana, tidak berlebih secara materi, dan (yang terpenting) hatinya bersih, putih dan bening, sebening salafunas shalihin. Gus Dur adalah pejuang, mujahid untuk orang banyak. Jadi wajar kalau beliau dicintai khalayak. Kepada kita, Alissa berpesan agar pengikut dan pendukungnya bisa meneladani dan meneruskan perjuangan beliau. Berikut penuturan lengkap Alissa Wahid: Ayahku bukan hanya milikku. Anak ideologisnya banyak sekali. Membuatku merasa nyaman, karena d

Obituari Ning Mahmudah: Kisah Sepotong Tempe

Bahagia itu, punya ibunda yang hobby -nya menyenangkan hati orang. " Idkhalus surur kata kanjeng nabi itu shadaqah. Tak punya cukup uang,  jangan menghalangi berbuat baik, bersedekahlah dengan cara menyenangkan hati orang lain...." kata ibunda suatu ketika. Nama beliau, Mahmudah binti Hasyim, putri pasangan Mbah Hasyim dan Mbah Mila. Masyarakat di kampung dan juga santri dan para alumni pesantren, memanggil beliau: Ning Mahmudah. Saya dan adik-adik memanggil beliau, Ibu (pasnya, Ibuk). Para keponakan, misanan-misanan saya, sangat dekat dengan Ibu. Dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Mereka memanggil Bik Dah atau Wak Ibu Dah. Ibu memang menyenangkan, humoris. Konon, itu mewarisi Mbah Kakung, Mbah Hasyim. Saya tahu itu, dari nenek, Mbah Mila. Kalau Ibu 'beraksi' dengan cerita-cerita lucu yang sebenarnya diulang-ulang itu, Mbah Mila sering menyela. "Wis ta Dah. Cek persise Bapakne!" (Sudah, sudah. Persis banget sama ayahmu). Itupun Mbah Mila protes sa