Skip to main content

Posts

Showing posts from 2009

Mufaraqah dalam Hidup Bernegara

Melihat situasi politik kenegaraan --baik di pusat maupun daerah-- sepertinya berjalan tanpa arah, maka saya tumpahkan kegalauan itu. "Mengambil keputusan adalah hak pemimpin. Mengingatkan pemimpin akan keputusan yang salah adalah hak rakyat. Kalau dak mau diingatkan, ya udah..., rakyat berhak memutus hubungan (mufaraqah) dengan sang pemimpin." Demikian status FB saya ter-publish, di sebuah pagi.
Seperti biasa komentar banyak muncul, dari yang sekadar merespon hingga yang mencoba mengajak serius. Seperti biasa pula, komentar adalah sesuai dengan 'situasi' facebooker atau apa yang sedang dia pikirkan. Dan semua saya pandang sebagai sebuah respon hebat atas kerisauan saya. Seorang kawan, yang saya ketahui adalah pegiat demokrasi di tingkat lokal, merespon statusnya dengan sebuah pertanyaan menantang. "Tolong diajari carane biar gak anarkis," tulisnya.
Dalam litaratur ilmu fiqh ubudiyah, terma 'Mufaraqah' berada dalam hukum shalat jama'ah. Apabila ma…

Menjadi NU 'Tepat Waktu'

Bagi yang sempat mengenal lebih dekat dengan suasana kepengurusan cabang NU Kabupaten Pasuruan, maka akan tahu bahwa ada sebuah tradisi baru yang ingin diciptakan: datang tepat waktu. Setidaknya itulah, garis yang ditegaskan dan dimandatkan kepada pengurus oleh Rois Syuriyah KH. AD. Rohman Syakur, ketika pertama kali rapat pengurus hasil bentukan formatur konferensi.
Mulanya, garis itu dianggap sebagai ‘saran’ seperti biasanya mau’idzah yang sering kita dengar. Namun baru disadari bahwa itu ‘Bukan Petuah Biasa’, ketika ternyata di kemudian hari komitmen itu ditagih implementasinya kepada segenap pengurus. Cara menagihnya pun bervariasi. Rois datang tepat waktu, sementara pengurus lain molor dengan jam karet kesukaannya, dan tentu tanpa rasa bersalah. Pada kesempatan lain, ketika ada pengurus yang datang lebih awal, maka beliau akan berkata, “Saya kalah, sampeyan menang”. Atau suatu saat, Rois akan hadir di kantor di luar hari Rabu, hari piket beliau, dan kepada kami beliau akan berkata…

Aku Sekadar Menyampaikan...

Kadang aku merasa, sistem ragaku bak sebuah DVD Player. Alat pemutar audio visual, dengan content yang tetap. Aku harus 'membunyikannya' di hadapan kumpulan orang-orang. Dari satu titik ke titik lain.
Tak terasa diriku sudah terlalu banyak bicara. Berbicara sesuatu yang sama. Dari satu forum ke forum lain. Memang lakon ini, tak semata tergerak dari energi pribadi. Ada sebuah misi mulia milik bersama, realisasi dari kesepakatan akan sebuah idealisme praksis yang harus aku jalankan. Tapi, tak pikir-pikir kok jadi aku yang banyak bicara.
Bicaraku sih, memang tak segombal pidato politik. Walau dak jauh-jauh amat dengan penjual obat. Selalu saja ada bumbu, yang harus aku tebar demi menuntun logika khalayak. Entah itu humor, atau jurus SDSB (sok dekat, sok baik). Tapi itu bumbu, agar mereka tak bosan mengikuti 'omelan' panjangku.
Bicaraku panjang, bahkan terlalu panjang. Bisa hampir 2 jam. Edan... Tapi sayang, baru aku sadari, ketika forum udah bubar. Entah apa yang ada di bena…

PCNU Luncurkan KARTANU Plus

Di hadapan para masyayikh dan pengurus NU mulai tingkat cabang, MWC hingga ranting, Ahad, 11 Oktober 2009 kemarin PCNU Kabupaten Pasuruan meluncurkan KARTANU Plus . Acara yang dikemas dalam bentuk Halal Bihalal tersebut digelar di Kantor PCNU di Warungdowo.
Peluncuran KARTANU Plus ini merupakan realisasi dari Program Pendampingan Agribisnis (PPA) PCNU yang telah dilaunching dua bulan sebelumnya. Selain sebagai ID-Card (mirip ATM) bagi anggota NU, KARTANU Plus sekaligus berfungsi sebagai penggalangan infaq warga NU yang akan digunakan sebagai Dana Penjamin Usaha bagi kelompok tani/UMKM binaan NU. Besar infaq per kartu hanya Rp 50.000. Dana yang terkumpul akan menjadi Dana Abadi di rekening BRI karena tidak akan pernah dicairkan untuk keperluan apapun, selain sebagai jaminan usaha. Pengajuan penggunaan jaminan Dana Abadi, menggunakan mekanisme yang disusun bersama oleh PCNU dan BRI Cabang Pasuruan. Hingga saat ini sudah ada 8 kelompok tani/UMKM binaan yang mengakses program ini.
Hingga…

PWNU Siap Luncurkan TV 9

SURABAYA (Republika Online)--Stasiun televisi swasta yang memancar dari Surabaya kian marak. PWNU berencana meluncurkan stasiun televisi bertajuk TV 9 pada November mendatang. Pemilihan media televisi itu berdasar dengan kebutuhan aktivitas NU dan amanat konferensi Genggong dan Pasuruan.

Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama Jatim KH M Hasan Mutawakkil Alallah saat Silaturohim dan Buka Puasa dengan Nahdaltul Ulama (NU) di kantor Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) mengatakan, surat izin untuk penyiaran sudah turun dari Komisi Penyiaran Daerah (KPID). "Surat izin untuk siaran percobaan juga sudah didapatkan dari KPID dan KPI Pusat," katanya, akhir pekan lalu.

Rencananya, akan ada sembilan kota yang diplotting untuk dapat menerima siaran TV 9, di antaranya Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Tuban, Jombang, Lamongan. Materi program yang akan ditayangkan, tak jauh beda dengan siaran televisi swasta yang ada di Indonesia yakni menampilkan beragam acara, seperti pendidikan, …

East Java NU to launch TV-9 next month

SURABAYA: The executive boards of Nahdlatul Ulama (NU)'s East Java chapter will launch a television station, TV-9, that will start its on-air activities next month, an NU executive said Sunday.

"We initially planned to start operations this month, but something needs to be corrected so we will postpone it until next month," East Java NU chairman Hasan Mutawakkil said as quoted by Antara news agency.

Hasan said his organization had secured licenses from the Indonesian Commission of Broadcasting's (KPI) central office and East Java chapter but corrections were required for some of the licenses' phrases.

"One thing for sure is that TV-9 is a transfer channel of the Pasuruan-based TV-Pas that is moved to the East Java NU headquarters on Jl. Raya Darmo 96, Surabaya."

For the initial stage, the broadcast will be available in Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Gresik, Lamongan, Tuban, Bangkalan, Jombang, Mojokerto and Malang. - JP/The Jakarta Post

Bersantai Tanpa Rembulan..

Di sebuah pagi, kulihat seseorang mengaku sedang bersantai. Terusik jemariku untuk menegurnya. Bagiku, santai, melamun, mengandai dan menerawang, bedanya setipis ari. Dan akupun menyapanya: “Sesantai apa, Nduk...”

Tapi Jawabannya membuatku terduduk tegak. “Kayak di pantai, di pagi hari, tanpa rembulan!” sergahnya. Jawaban itu penuh arti. Dia sedang tak ingin terganggu rembulan. Dan akupun menguatkan hatinya. “Rembulan selalu ada, tapi sengaja sembunyi di siang hari... Biar tidak kelihatan pucat pasi..,” jawabku mencoba bijak.

“Yup! rembulan itu memang tak lagi indah, seiring dengan terbongkarnya tipuan yang ia buat, pun di malam hari.” Walau dalam bahasa tulis, terasa sekali intonasinya mulai meningkat.

“Rembulan tak pernah bersalah. Dia beredar dalam garis fenomena alam. Manusia di bumilah yang membuat cerita. seakan rembulan itu surga. Padahal hanya daratan gersang, yang bahkan tak layak dihuni manusia. fatamorgana...” jawabku terangkai.

“Aku juga tak menyalahkannya. Mata keringku aja y…

Rindu Gus Dur, Rindu Kyai Ahmad Siddiq

Entah, pagi ini kok tiba-tiba perasaan ‘kangen Gus Dur’ saya tersambung dengan Pak Yudhiastra.
“Assalamualaikum, bagaimana kabar Gus Dur?” sebuah pesan obrolan tiba-tiba muncul di kiri bawah halaman FB. Agak tergagap aku membacanya, apalagi berpikir untuk menjawabnya. Sebab aku benar-benar gak tahu, bagaimana kabar beliau. Informasi terakhir, beliau dirawat di RSCM, dan dibezuk beberapa tokoh, termasuk Jusuf Kalla. Tapi aku harus menjawabnya.
“Insya allah baik. Jarang ketemu fisik, saya hanya ketemu visi, dengan beliau..,”. Itu jawaban maksimal yang sebenarnya tidak menjawab apapun, kecuali informasi ketersambungan visi saya dengan Gus Dur. Jawaban yang umum, Hehe…
Secepat kilat, dia menyambar. “Semoga belia cepat sembuh, sekarang saya lagi jarang nonton TV, lagi jenuh saja lihat tingkah politikus yg angkuh.” Betapa orang ini telah kehilangan sesuatu dari televisi: kehilangan kepercayaan pada politisi kita. Tapi Apa hubungannya dengan Gus Dur ya? Barangkali dia rindu pada tampilan tulus …

Jermain Jackson tentang Agama Adiknya

Jermaine Jackson (aka Mohammed Abdul Aziz), revealed to the Editor of The Muslim News, Ahmed J Versi, in an exclusive interview on February 7, 2007, that his brother Michael may soon convert to Islam. Complately, click: http://www.muslimnews.co.uk/paper/index.php?article=2879
Jermaine Jackson, 53, who took part in the controversial Celebrity Big Brother on Channel 4, discusses about his conversion and how his faith helped him get through the reality programme.
Jermaine was very sure that his brother, Michael, would convert to Islam. He said that Michael has shown a lot of interest in Islam. “When I came back from Makkah I got him a lot of books and he asked me lots of things about my religion and I told him that it’s peaceful and beautiful. He read everything and he was proud of me that I found something that would give me inner strength and peace. I think it is most probable that Michael will convert to Islam.”
Jeramaine believes if Michael converts, he would do a lot for Muslims. “He c…

Mimpi Besar Para Petani NU

'Think Big, Start Small, Let's do it'. Pemeo itu sebenarnya sudah terpajang lama. Entah berapa kali aku membacanya. Yang jelas sering, tapi pergi begitu saja tanpa kesan. Dipampang di bagian ruangan workshop Sentra Produksi Agribisnis Terpadu (SPAT) Purwodadi, Pasuruan. Lembaga ini milik Mas Unggul, si Bakpao Telo. Nama lengkapnya, Ir. Unggul Abinowo. Pengusaha agribisnis sukses, seniorku di alamater Pertanian Unibraw Malang dulu.
Namun, sejak sebulan terakhir, pemeo itu begitu kutemukan momentumnya. Di ruangan itu, akhir pekan lalu aku menfasilitasi sebuah perbincangan dengan para pegiat pertanian NU. Aku menjadi fasilitator perbincangan tu: Diskusi Pemetaan Potensi Agribisnis dalam rangka Program Pendampingan Kemandirian Petani NU. Diselenggarakan PCNU Kabupaten Pasuruan, tepatnya pada Sabtu, 20 Juni kemarin. 30 peserta hadir, terdiri dari Pengurus Cabang, Lembaga Perekonomian dan Pengembangan Pertanian serta utusan 19 MWC NU. Aku suka acara ini, karena menjadi pijakan un…

Ngobrol Pluralisme (2): Andai Dimaknai Keterlibatan dalam Keberagamaan

“Yes…!! I get it... “ Akhirnya FB menuntunku ‘bersua’ dengan sahabatku, Arif Zamhari. Dimataku, akademisi pintar ini pantas diacungi jempol. Kebaikannya membimbing dia ke posisinya sekarang. Ketekunannya membawa dia menjadi seorang Philosophy of Doctor (PhD), jebolan Australia. Kesahajaannya menarik hati seorang tokoh nasional menjadikan dia menantu (hehe..). Ceritanya menarik. Tapi sayang, ‘off the record’.
Tapi ini, bukan soal pribadi dia. Tapi soal lanjutan obrolan pluralisme, yang menjadi semakin gayeng dengan kehadiran dia. Arif memang spesialis ‘pemikiran islam’. Hobby-nya, menggali resonansi pemikiran ulama salaf (pesanten). Lantas, dia analisis menurut perspektif pemikiran modern. Jadi wajar, bila dia mengomentari obrolanku dengan Saiful tentang pluralisme, dengan nuansa yang lebih luas.
“Pluralisme, liberalisme dan sekulerisme (atau sering disingkat dengan SIPILIS) oleh MUI diharamkan karena menyamakan faham ini dengan keyakinan bahwa semua agama adalah benar. Andai pluralism…

Ngobrol Pluralisme (1): Dimana Perbedaan Harus Ditempatkan?

Gara-gara statusku di FB tentang ketinggalan nonton 'Satu Jam Lebih Dekat' dengan Rhoma Irama di tvOne., aku harus terlibat diskusi yang jauh dari tema itu. Yakni, tentang pluralisme. Hingga dalam pertengahan diskusi, aku masih belum sadar, kalau tema ‘pluralisme’ pernah menjadi kontroversi dalam dunia fatwa di Indonesia.
Awalnya, temen (baru)ku itu berkomentar ‘porto folio’ dalam profilku di FB. Namanya Saiful. Aku Masih belum terlalu kenal dia. Tapi aku yakin, dia orang baik. Sepertinya dia pegiat ilmu social dan demokrasi.

Saiful: gus hakim trnyata msh masuk kaum muda, asyik lht infonya..
Hakim: hehe, saya memang dididik ortu jadi pluralis, sejak kecil. Untuk mengais kebenaran dari manapun. Asalkan, sumbernya dari Allah. hehe...
Saiful: bs diskusi soal pluralisme dong!! waduh knp sy mau jd dkt sm panjenengan, nih gus
Hakim: aku gak ngerti teorinya. ngertinya mung 'udkhuluha bi abwabin mutafarriqah'. hehe
Saiful: sm yg pnting dlm diskusinya kt sdg merayakan perbedaan

Dan… …

Anomali Politik Orang NU...

Aku seneng. Aku patut berterima kasih pada Face Book. Kawan lamaku di pondok Gading, Malang, kirim pesan. Namanya Muhajir. Kami memanggilnya dengan 'Gus Hajir'. Gus santun, yang cenderung pendiam, dan 'alim. "Saya sekarang di Tegal," tulisnya mengawali. Kemudian dia mengajukan dua pertanyaan yang cukup berbobot. Terus terang, saya tak menyangka pertanyaan itu datang dari dia. Apalagi, di penghujung pertanyaannya, dia juga menyampaikan pernyataan dan opininya.
"Njenangan Gusdurian,.. terus pendapatnya tntang PKB sekrang gimana? memang Pak Hakim ndk aktif di partai ya?" Dia kemudian melanjutkan.
"Mnurut Njenengan tentang buku "ilusi negara islam" mmang isinya valid apa ndak?. terus terang bagi sy sendiri ora perduli sapa yang jadi pemimpin, apapun bentuk negaranya, mau negara islam, demokrasi atau sistem diktator sekalian. Yang penting adil. percuma sy milih orang NU tapi moralnya bobrok...."
Aduh... sebuah ironi dia angkat. Sebuah anomal…

'Geger FB Haram': Ini Sebenarnya....

Fatwa Face Book haram, mencengangkan hampir semua orang. Bahkan menyebar dengan cepat di media, khususnya di obrolan jejaring social ‘face book’ sebagai pesakitan. Tapi bagaimana sebenarnya? Ternyata, ada sebuah miskomunikasi antara realitas dan persepsi media terhadap peristiwa tersebut. Apa sebenarnya yang terjadi? 'Ini Sebenarnya..." (Meminjam jargon sebuah bumper acara salah satu radio dangdut di Surabaya/Gresik).

Adalah sebuah diskusi kompilasi hukum (biasa dikenal dengan istilah bahtsul masail). Yang mengadakan adalah para ‘fuqaha perempuan’ atau para ustadzah/santri pesantren putrid di Jawa Timur. Kebetulan Lirboyo, kebagian menjadi tuan rumah. Masalah yang dimunculkan bertajuk: ‘Trend PDKT via HP’. Berikut pertanyaan dan rumusan jawabannya.

Dewasa ini, perubahan yang paling ngetop dengan terciptanya fasilitas komunikasi ini adalah trend hubungan muda-mudi (ajnabi) via HP yang begitu akrab, dekat dan bahkan over intim. Dengan fasilitas audio call, video call, SMS, 3G, C…

Menulislah, Seperti Kala Kita Ngobrol..

Menulis itu tak sulit. Tapi akan jadi sulit kalau tak mencoba. Menulis seperti berenang. Tak cukup dengan hanya membaca buku 'cara berenang'. Berenanglah... Mungkin kita nyaris tenggelam, gelagapan. Tapi setelah itu kita akan belajar, bagaimana agar tidak tenggelam.. Lama-lama kita akan bisa berenang.

Menulis sama dengan bicara. Sama-sama berkomunikasi. Kita menulis, karena kita ingin bercerita kepada orang lain. Bukan pada diri (saja). Maka kita harus tahu diri, bahwa tulisan kita harus dimengerti orang lain.

Menulislah... Tapi simak dulu, sebuah perbincangan 'chatting' dengan kawan berikut ini. Ketika aku diminta mengomentari tulisan di 'blog'-nya.

hakimjayli: ide tulisanmu udah bagus...
hakimjayli: tapi...
tera' athena: apa?
hakimjayli: kamu harus bisa mengendalikan perasaanmu sendiri...
hakimjayli: kamu masih terlihat menumpuk emosimu..
hakimjayli: emosi: bukan berarti kemarahan, lho...
hakimjayli: kamu harus bisa memanage emosimu
hakimjayli: agar kamu bisa menga…

Asyik Juga, Diskusi Politik dengan Para Gus

Selasa (12/3) kemarin, saya diminta Mas Ahmad Sidogiri untuk memandu diskusi. Saya mau, karena pesertanya menarik hati. Yakni para Gus (muda) di Pasuruan, rijalul ghad, pemimpin masa depan di pesantren masing-masing. Lebih menarik lagi mereka mau diskusi soal politik. About substancy of politics. Mereka ingin tahu apa itu politik, karena kata itu kini begitu populer di kalangan pesantren.
Saya memandu diskusi itu. Ada Cak Duki (Masduqi Baidlowi, Anggota Komisi I, wasekjen PBNU). Ada pula Pak Bashori Alwi (kepala Dinas Pendidikan Kota). Dikusi berlangsung menarik. Ternyata mereka hebat. Mereka berpikir tentang masa depan pesantren. Bahkan lebih dari itu: membincang tentang masa demokrasi dan politik di Indonesia. Agar lebih tertata dan tak 'bergejolak' tanpa arah seperti saat ini. Merekapun memberi tema: 'Kepemimpinan Pesantren di Tengah Gejolak Politik". Mantap....

Dan Radar Bromo pun memuatnya. Judulnya agak provokatif: "Kembalikan Pesantren pada Fitrahnya". …

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang.
Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini.
Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian rutin…

In Memoriam: Selamat Jalan, Riris...

Hampir saja aku tak ingat namanya, apalagi menyebutnya. Hingga sebuah pesan pendek dari sekretarisku masuk. "Pak, Riris meninggal, pagi tadi". Riris... Ya, aku baru ingat. Bukankah dia yang biasa menyiapkan peralatan studio. Dia cakap memasang peralatan syuting, secakap dia memberesi ketika 'take' gambar usai dilaksanakan. Ya, aku juga ingat. Anak itu pendiam. Selalu menunduk, ketika berpapasan denganku. Tersenyum, menjawab dengan ramah, bahkan hanya mampu tersipu ketika aku usil menggojloknya.
Setahun kemarin, dia menikah. Aku datang. Aku sengaja menyempatkan waktu untuk datang. Aku harus datang, demi dia, demi kebaikan dia. Aku membalas dedikasi dia pada perusahaan. Dia bekerja atau mengabdi. Hampir tak bisa dibedakan. Dia memang mendapatkan gaji, tapi kecil.... tak sebanding dengan loyalitas dia. Apalagi belakangan aku tahu, dia bekerja sambil menahan sesuatu. Menahan rasa sakit yang dideritanya. Dia tidak pernah bercerita. Dia menyembunyikan sakitnya. Hingga aku t…

Kinerja Dewan Dirapor-merahkan...

RADAR BROMO(25/3) - Anggota Dewan memang bukan anak sekolahan. Namun, kemarin DPRD Kabupaten Pasuruan mendapat rapor tak ubahnya anak sekolah. Rapor itu diberikan oleh Forum Kajian Pasuruan (Forkap). Isinya, dewan mendapat "nilai merah" untuk tiga fungsi utama dewan: legislasi, budgetting, dan controlling.
Forkap memberi nilai 5 untuk fungsi legislasi. Sedangkan untuk fungsi budgetting (anggaran) dan controlling (pengawasan), sama diberi nilai 2. "Kalau sampai mencuatnya kasus kasda Rp 74 M, lalu ada Persekabpas dan kasus-kasus lain di Pemkab, sementara dewan tidak tahu, inikan kebacut. Dari sinilah fungsi pengawasan kami berikan nilai 2," terang Udik Suharto, salah satu pengurus Forkap, kemarin.
Fungsi budgeting lanjut Udik juga tidak bekerja maksimal. Pembahasan dalam Perda atau APBD yang sampai molor hingga disahkan sampai akhir Januari 2009, menjadikan penyerapan anggaran juga molor.
"Dewan juga tidak pernah mempertanyakan kenapa anggaran di satker bisa sekia…

Kemana Arah Demokrasi Kita Selepas Pemilu?

Saya selalu gelisah meramalkan arah demokrasi kita ke depan, khususnya di daerah. High cost, tetapi tercanam low product. Biayanya tinggi luar biasa , tapi hasilnya akan biasa-biasa saja. Itulah ancaman yang sedang menghantui proses politik bangsa yang bernama pemilu.

Indikatornya jelas. Masyarakat sudah mulai emoh berpikir panjang tentang ideologi partai. Padahal produk jualan partai adalah ideologi, disamping produk lain yakni kandidat atau caleg. Masyarakat telah menganggap sama semua partai, tanpa beda. visi dan ideologi partai dianggap sebagai hal abstrak yang tak lagi penting. Situasi yang berkebalikan, dengan tujuan diterapkannya sistem multi partai. Kalo semua partai dianggap sama, kenapa harus banyak partai. Atau kalau lebih ekstrim, kalau yang penting caleg, kenapa legislatif tidak dipilih sebagaimana sistem pemilihan perseorangan sebagaimana DPD aja.

Kepada kolega di daerah, saya sering ibaratkan partai adalah bus penumpang yang berjalan sesuai dengan trayeknya. Dan caleg ada…