Skip to main content

Mimpi Besar Para Petani NU


'Think Big, Start Small, Let's do it'. Pemeo itu sebenarnya sudah terpajang lama. Entah berapa kali aku membacanya. Yang jelas sering, tapi pergi begitu saja tanpa kesan. Dipampang di bagian ruangan workshop Sentra Produksi Agribisnis Terpadu (SPAT) Purwodadi, Pasuruan. Lembaga ini milik Mas Unggul, si Bakpao Telo. Nama lengkapnya, Ir. Unggul Abinowo. Pengusaha agribisnis sukses, seniorku di alamater Pertanian Unibraw Malang dulu.
Namun, sejak sebulan terakhir, pemeo itu begitu kutemukan momentumnya. Di ruangan itu, akhir pekan lalu aku menfasilitasi sebuah perbincangan dengan para pegiat pertanian NU. Aku menjadi fasilitator perbincangan tu: Diskusi Pemetaan Potensi Agribisnis dalam rangka Program Pendampingan Kemandirian Petani NU. Diselenggarakan PCNU Kabupaten Pasuruan, tepatnya pada Sabtu, 20 Juni kemarin. 30 peserta hadir, terdiri dari Pengurus Cabang, Lembaga Perekonomian dan Pengembangan Pertanian serta utusan 19 MWC NU. Aku suka acara ini, karena menjadi pijakan untuk langkah berikutnya. Rasa itu, juga ada pada benak Gus Son (ketua PCNU), Cak Muslim (wakil ketua) dan Mas Unggul.
Dan perbincangan kami menyimpulkan. Rendahnya penghasilan petani di desa-desa, menunjukkan bahwa sektor pertanian belum digarap secara optimal. Faktor utamanya adalah belum siapnya mental dan kapasitas petani NU untuk bersaing dengan arus deras bisnis global yang kini merambah hingga ke pelosok desa. Untuk itu, diperlukan langkah serius untuk mengupayakan kemandirian petani NU di tingkat local dengan melakukan pendampingan produksi, permodalan dan pembentukan pasar.
Hasil pemetaan menunjukkan, di wilayah 19 MWC ditemukan beberapa produk agribisnis yang bila diolah dan dikemas akan menjadi tambang emas bagi peningkatan penghasilan petani NU. Produk olahan dan kemasan tersebut akan laku keras di pasaran apabila dilakukan pembinaan pengolahan pasca panen dan mengemasnya secara menarik dengan brand (merk) yang sesuai selera pasar.
Kami sedang tidak membual. Tapi kami sedang 'berpikir besar', dan memulainya saat ini dengan langkah kecil. Bismillah, PCNU telah melatih dan membina 20 petani salak untuk menjadi pengusaha makanan-minuman berbahan baku salak. Sebelum puasa ini, bahkan mereka siap melempar satu produk unggulannya yaitu Dodol Salak Kersikan ke pasaran.
Mereka dikumpulkan dalam tiga kelompok petani pengolah salak: masing-masing di kecamatan Gondangwetan, Pasrepan dan Puspo. PCNU telah menyiapkan tiga unit mesin vacuum fresh dryer untuk pembuatan kripik salak. Harganya masing-masing 20 jutaan, dan diperoleh dari iuran modal para petani dan PCNU, sisanya akan dikreditkan ke perbankan.
Kesiapan untuk bersaing para petani NU kita memang rendah. Sebagai produsen mereka butuh difasilitasi dan disambungkan dengan jaringan permodalan dan pasar. Mesin terus menderu. Menurut rencana, bulan Juli-Agustus kami akan mulai lagi. Kali ini, pelatihan processing dan pemasaran Olahan Udang dan Bandeng untuk para nelayan dan petani tambah di 4 MWC, masing-masing Kraton, Rejoso, Lekok dan Nguling. Pandanganku menerawang. Andai potensi agribisnis NU berkembang. Duh... Mbayangin produk agribisnis petani NU, ada Petis kraton, ada olahan mangga, tape dan kripik singkong terpajang manis di pusat perbelanjaan elite hingga tersebar di outlet dan toko di nusantara. Indahnya..
Ya... Aku harus berpikir besar. Tapi harus aku mulai dari yang kecil-kecil dulu. Dan, yang penting, langsung dilakukan. Tak usah ditunda. Ibda' binafsik, bil istiqamah, dan tentunya bi niyatin shalihah.

Comments

Popular posts from this blog

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang.
Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini.
Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian rutin…

Menjadi NU 'Tepat Waktu'

Bagi yang sempat mengenal lebih dekat dengan suasana kepengurusan cabang NU Kabupaten Pasuruan, maka akan tahu bahwa ada sebuah tradisi baru yang ingin diciptakan: datang tepat waktu. Setidaknya itulah, garis yang ditegaskan dan dimandatkan kepada pengurus oleh Rois Syuriyah KH. AD. Rohman Syakur, ketika pertama kali rapat pengurus hasil bentukan formatur konferensi.
Mulanya, garis itu dianggap sebagai ‘saran’ seperti biasanya mau’idzah yang sering kita dengar. Namun baru disadari bahwa itu ‘Bukan Petuah Biasa’, ketika ternyata di kemudian hari komitmen itu ditagih implementasinya kepada segenap pengurus. Cara menagihnya pun bervariasi. Rois datang tepat waktu, sementara pengurus lain molor dengan jam karet kesukaannya, dan tentu tanpa rasa bersalah. Pada kesempatan lain, ketika ada pengurus yang datang lebih awal, maka beliau akan berkata, “Saya kalah, sampeyan menang”. Atau suatu saat, Rois akan hadir di kantor di luar hari Rabu, hari piket beliau, dan kepada kami beliau akan berkata…

Nyai Amilah

Inilah manakib (biografi) seorang ulama perempuan bernama Nyai Amilah binti Umar. Lahir dari ketulusan masa lalu, dari rahim seorang ibu bernama Nyai Hafshah dan seorang ayah bernama Umar yang di masa senjanya sering melamun: kelak di tanah leluhur tinggalan Sang Ibu, Mbah Pilatun akan berdiri tegak pondok pesantren, yang diasuh anak cucunya. Angan-angan seorang petani desa. 

Pak Umar dikenal baik dan dermawan. Dia lebih sering dipanggil Pak Sukar, nama pinjaman 'karang anak' dari putra pertamanya bernama Sukar yang ternyata tak berumur lama. Maka jadilah Pak Sukar dan Mbok Sukar, sepasang suami istri di sebuah desa yang sunyi kuat berbalut tradisi Madura, bernama Karangpandan. Di awal-awal tahun 1920-an, Adik Sukar lahir, diberi nama Amilah. Amilah bisa bermakna Perempuan Yang Suka Bekerja. Tapi Amilah juga bisa berarti Perempuan Pewujud Angan-Angan Sang Ayah.

Maka Amilah pun disiapkan menjadi pemilik Ilmu dan juga pejuang ilmu. Amilah kecil pun dikirim mondok di sebuah La…