Skip to main content

Ning Mahmudah dan Lembaran Buku Pidatonya

Saya tulis artikel ini mulanya sebagai pengantar sebuah buku pedoman ekstrakuler retorika di MA Darul Ulum Karangpandan, Pasuruan. Karena tentang bagaimana membangun kemampuan public speaking, saya berkisah pandangan mata bagaimana mendiang ibu saya, Nyai Mahmudah binti Hasyim menyiapkan santri-santri putrinya menjadi 'singa podium'. Mengisahkannya kembali sembari berdoa, agar tanaman jariyah yang disemai dan dirawat selama hidupnya tumbuh dan terus mengalir menemani bahaginya di haribaan Allah Dzat Maha Kaya. Setiap akhir Sya'ban, jelang ramadhan seperti ini, kami semua berkumpul berkirim doa, sekaligus mengobati kerinduan setelah 15 tahun lamanya beliau kembali ke alam keabadian. Untuknya, Fatihah terindah... 
-------

Salah satu ciri beda dan keunggulan 'wetonan' atau 'weton' Karangpandan adalah kemampuannya berperan mengamalkan ilmu dan menjadi penggerak dakwah/pendidikan di tengah masyarakatnya. Weton Karangpandan yang saya maksud adalah santri didikan Darul Ulum Karangpandan, pesantren dan madrasah yang kita miliki dan cintai ini. Saya sering mendengar istilah itu dari almarhumah Mbah Nyai Amilah Hasyim,  Bunyai Chusniyah Maksum, dan lebih sering lagi dari ibunda Nyai Mahmudah Syakur. 

Pesantren ini memang tumbuh dari niat kuat pejuang ilmu dan kebutuhan masyarakatnya, sehingga orientasinya bagaimana para lulusan dan alumni (yang disebut Weton Karangpandan tadi) bisa berkiprah maksimal di masyarakat. Kiprah yang dimaksud tak hanya berupa kemampuan mengajar di kelas atau majelis taklim, tetapi lebih dari itu, kemampuan menjadi lentera penerang di tengah gelap kehidupan masyarakat, menjadi oase di tengah panas kering spiritualitas dan menjadi pelayan setia apapun yang dibutuhkan masyarakat. 

Prinsip hadits nabi: 'khairun nas anfa'uhun lin nas',  manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya,  dipentingkan penerapannya. Bukan hanya didoktrinkan kepada para santri dan alumni, tapi juga diteladankan oleh duet pendiri pesantren ini, Kiai Hasyim Thoha dan Kiai Ma'shum Almubarok. Keduanya adalah sosok yang tak hanya pengasuh bagi para santri tetapi pembina batin dan kehidupan sehari-hari bagi masyarakat sekitar Pesantren. 

Suatu saat Kiai Hasyim Thoha memberi nasehat kepada menantunya, Kiai Ma'shum. "Kunci bermasyarakat itu ada dua. Pertama, datangi mereka kala sedang bahagia. Kedua, datanglah juga kala mereka sedang besedih". Nasehat ini menjadi kunci penting  bagi persenyawaan antara  pesantren dengan masyarakat, sehingga memiliki keterkaitan yang kuat. Maka tak heran, kalau hajat pesantren menjadi hajat masyarakat. Salah satunya ditunjukkan di momen Haflah Imtihan (dulu disebut: Hari Malam Imtihan). Utamanya, saat Karnaval sebelum malam puncak. Di masa lalu, Acara itu, seperti pesta rakyat yang ditunggu-tunggu dalam setiap tahunnya. Dan itu (dulu) hanya Darul Ulum yang punya.

Kemampuan Weton Karangpandan (khususnya yang putri) dalam forum-forum kultural seperti sambutan  mewakili keluarga dalam forum pernikahan atau pertunangan sudah masyhur terkenal luas. Masyarakat hampir dipastikan menyerahkan semua urusan prosesi seremonial itu kepada Darul Ulum. Mulai pembacaan shalawat pengantar acara hingga mahallul qiyam, Master of Ceremony (biasa disebut protokol), pembaca tilawatul qur'an, sambutan dan mau'idzatul hasanah yang disampaikan para bunyai. Bahkan dulu sekalian dengan hiburan berupa Samroh Da'watus Sholihah, kesenian grouo qosidah ala Nasyida Ria yang dimiliki Darul Ulum, terkenal hingga manca daerah.

Tradisi pemangku seremoni forum kultural masyarakat ini dirintis sejak generasi pertama Nyai Amilah dan dilanjutkan generasi kedua Nyai Chusniyah, kemudian era Nyai Mahfudzoh dan Nyai Mahmudah. Dan ini yang membuat Darul Ulum dan weton Darul Ulum selalu di hati masyarakat. 

Pertanyaan pentingnya, bagaimana situasi ini bisa terjadi? Jawabannya adalah karena Darul Ulum dengan sungguh-sungguh menyiapkan santri-santrinya agar terjun dan berperan di masyarakatnya. Ada tiga hal. Pertama, knowledge (ilmu) keagamaan yang nantinya akan disampaikan kepada. Masyarakat. Kedua, Attitude (sikap) berupa ruh spirit perjuangan, penempaan akhlak dan tata krama hingga bekal mental kesabaran dan istiqamah yang dibutuhkan kelak. Dan ketiga, skill atau kemampuan dan keterampilan memimpin masyarakat sebagaimana memimpin tahlil, istighotsah, shalawatan, dibaan, manakiban, khutbah jumat dan hari raya, hingga kemampuan retorika untuk berceramah, berpidato dan memimpin acara. 

Ketiga hal ini: knowledge, attitude dan skill diajarkan bahkan diteladankan kepada para santri. Saya sering mendapati ibunda Nyai Mahmudah, begadang hingga larut malam bahkan sering hingga subuh demi menulis tangan berbagai naskah (contoh) pidato dan protokol pada sebuah buku tulis milik santri putri yang akan boyong, meninggalkan pesantren karena lulus atau dinikahkan. Ibunda menuliskan sendiri dengan sepenuh hati dengan jemarinya yang mulia, untuk setiap santri-santrinya. Menuliskan pidato sambil berdoa plus mencoba menghadirkan situasi yang sedang dan akan dihadapi sang santri ketika kelak kembali ke keluarga dan masyarakatnya. Mungkin karena ini pula, almarhumah lebih memilih menuliskan langsung pidato-pidato itu di buku-buku kosong dengan pena itu dari pada misal menfotocopy-nya. The best momentnya adalah saat buku penuh pidato itu diserahkan pada santri. Ibunda akan memberikannya kepada sang santri dengan didahului nasehat, ijazah, petuah luhur hingga doktrin menjadi mar'atus shalihah. Dan tak jarang momen ini,  berhias derai air mata. 

Maka, ketika diminta menuliskan pengantar bagi buku ini, saya langsung jawab: Yes! Inisiatif yang bagus dan layak didukung.  Selain untuk muhafadzah alal qadimis shalih, menjaga konsistensi kualitas pendidikan di Darul Ulum Karangpandan, juga untuk menjawab tantangan dakwah di era milenial dan digital ini. Via mesin pencari google, tentu hari ini mudah sekali mencari naskah pidato apapun. Tetapi yang tidak bisa didapatkan dari rujukan internet semacam itu adalah spirit dan ruh perjuangan. Tentu tidak cukup hanya buku ini. Karena ada prinsip dalam komunikasi yang baik: Khathibinnas bi hasabi uqulihim. Berpidatolah sesuai konteks dan daya terima audiens yang Anda hadapi. Artinya, retorika butuh kemampuan menyesuaikan dengan siapa yang diajak bicara. Tempatkan materi pidato kita sedikit di atas rata-rata kemampuan daya tangkap khalayak. Jangan terlalu jauh di atasnya, karena tak akan dipahami. Tapi juga jangan menyanpaikan sesuatu yang tak dibutuhkan mustami'in-mustami'at. 

Selamat! Buku ini bisa dijadikan perangkat keras (hardware), bekal berdakwah dan tampil cakap bicara di depan umum (public speaking). Namun yang  harus dicatat, skill dan knowledge belumlah cukup. Anda harus punya sikap (Attitude) yang handal! Dimulai dari niat luhur mengamalkan ilmu, berkhidmah pada guru, membahagiakan orang tua serta memberi manfaat terbaik pada sesama seperti anjuran Nabi SAW. Selebihnya serahkan semua pada Allah SWT, Tuhan Sang Pencipta Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan. 

Comments

Popular posts from this blog

#tentangAyah: Gus Dur di Mata-Hati Alissa Wahid

Dalam kesempatan bertestimoni #tentangAyah, di nuansa Hari Ayah (Father’s day) yang biasa diperingati pada pekan ketiga bulan Juni, Alissa Qatrunnada Wahid, putri pertama KH. Abdurrahman Wahid bercerita tentang ayahanda tercintanya. Kesaksian Mbak Lisa melalui rangkaian tweet (yang sengaja saya sambung satu persatu) di jaringan social twitter, membuat para followernya (termasuk saya) termenung, terhenyak dan trenyuh, dengan kisah pandangan mata yang nyata di balik kebesaran nama almarhum. Gus Dur seorang yang sederhana, tidak berlebih secara materi, dan (yang terpenting) hatinya bersih, putih dan bening, sebening salafunas shalihin. Gus Dur adalah pejuang, mujahid untuk orang banyak. Jadi wajar kalau beliau dicintai khalayak. Kepada kita, Alissa berpesan agar pengikut dan pendukungnya bisa meneladani dan meneruskan perjuangan beliau. Berikut penuturan lengkap Alissa Wahid: Ayahku bukan hanya milikku. Anak ideologisnya banyak sekali. Membuatku merasa nyaman, karena d

Televisi dan Keresahan Para Kiai

Berbagai stasiun televisi lokal mulai bermunculan di Jatim. Di antara mereka, menyembul TV9 milik PW NU Jatim. Televisi itu lahir lantaran sejumlah kiai resah atas maraknya acara TV yang nilai-nilainya cenderung luntur. LAYAR televisi itu menyajikan gambar laki-laki tua dan muda duduk membawa rebana. Mereka mengenakan baju koko. Di sebelah gambar itu ada sosok pria dan wanita yang mengatupkan tangan sebagai tanda salam. Intinya adalah tulisan di antara dua gambar itu. Yakni, Santun Menyejukkan . Tagline tersebut ditampilkan pada 31 Januari saat TV9 diresmikan Gubernur Jatim Soekarwo di Jalan Raya Darmo 96. Bangunan itu merupakan kantor lama PW NU Jatim. Di bangunan itulah TV9 kini berkantor. Acara-acara stasiun anyar tersebut memang masih belum mengudara. Sebab, sejumlah peralatan masih dipersiapkan. Di antaranya, pemancar, antena, dan peralatan untuk memperkuat jangkauan tayang. Pemancar itu diletakkan di Kelurahan Sambisari, Sambikerep, berbaur dengan pemancar stasiun televisi

Sindikasi Media-Media NU

Liberalisasi ekonomi di Indonesia berakibat pada penguasaan sektor strategis oleh pihak swasta terutama swasta asing. Eksistensi kita sebagai bangsa menjadi terancam. Bila tak ada perlindungan memadai dari negara, maka bisa dipastikan rakyat Indonesia akan menjadi obyek langsung liberalisme dan kapitalisme dunia. Salah satu sektor strategis yang hampir sepenuhnya dikuasai swasta (domestik dan asing) adalah sektor media. Oligopoli industri media telah membawa Indonesia pada ancaman serius di bidang kebudayaan mengingat industri media lebih menempatkan aspek bisnis sebagai misi utama mengesampingkan aspek budaya baik berupa norma sosial maupun agama. Sinyalemen Pakar Komunikasi Massa Dennis Mc Quail: conten of the media always reflects who finance them (isi media apa kata siapa pemilik media) benar-benar terbukti. Ketika Media dimiliki oleh kaum kapitalis (sebagian di antaranya kapitalis media internasional), maka pesan yang keluar dari media (cetak, elektronik dan internet) lebih