Skip to main content

#tentangAyah: Gus Dur di Mata-Hati Alissa Wahid

Dalam kesempatan bertestimoni #tentangAyah, di nuansa Hari Ayah (Father’s day) yang biasa diperingati pada pekan ketiga bulan Juni, Alissa Qatrunnada Wahid, putri pertama KH. Abdurrahman Wahid bercerita tentang ayahanda tercintanya. Kesaksian Mbak Lisa melalui rangkaian tweet (yang sengaja saya sambung satu persatu) di jaringan social twitter, membuat para followernya (termasuk saya) termenung, terhenyak dan trenyuh, dengan kisah pandangan mata yang nyata di balik kebesaran nama almarhum. Gus Dur seorang yang sederhana, tidak berlebih secara materi, dan (yang terpenting) hatinya bersih, putih dan bening, sebening salafunas shalihin. Gus Dur adalah pejuang, mujahid untuk orang banyak. Jadi wajar kalau beliau dicintai khalayak. Kepada kita, Alissa berpesan agar pengikut dan pendukungnya bisa meneladani dan meneruskan perjuangan beliau. Berikut penuturan lengkap Alissa Wahid:


Ayahku bukan hanya milikku. Anak ideologisnya banyak sekali. Membuatku merasa nyaman, karena dimanapun aku aman.

Tapi ada yang nggak enak (jadi anaknya). Seumur hidup, hanya dua-tiga kali liburan keluarga yang full (untuk liburan). Di Indonesia, nggak pernah blas, karena selalu ketahuan penduduk. Kenapa? (Bapak akan terjebak pada) ceramah dadakan, dibawa-bawa sana-sini, sampai hari terakhir liburan. He said: “Kalian harus terima. Buat Bapak perioritasnya itu Islam, NU, Indonesia, keluarga.” Pelajaran pertamaku tentang harga perjuangan.

Bapak jarang punya uang untuk keluarga, walau banyak yang memberi. Prinsip Bapak: Terimakasih: "Saya terima, lalu saya kasih orang lain." Namun yang memanfaatkan Beliau juga banyak, membuatku lebih wise menilai orang. Tak semua yang tampak luarnya baik, itu baik. Demikian juga sebaliknya. Buat banyak orang, Bapak sumber uang. Tapi waktu saya minta motor, (dan) ada uang di laci, tetep nggak dikasih. Katanya: “Itu uang titipan buat rakyat”

Waktu SMA, saya dikasih 40 ribu per bulan. Tanggal 20-an, sering dipinjem Bapak lagi, karena Beliau nggak punya uang. Di awal 2009, Bapak pernah sekali pinjem uang lagi sama saya. Untuk pegangan. Saya menangis, kok bisa Bapak nggak punya uang saat itu.

Saya juga marah waktu itu, karena Bapak nggak punya uang. Sementara orang-orang yang menjual namanya hidup bermewah-mewah. Rasanya tidak adil. Tapi saya sudah lama belajar ikhlas pada Bapak. Tiap hari, banyak orang minta sumbangan. Hampir semua diberi. Makanya banyak yang tuman. Kami protes.

"Pak, mereka itu cuma bohongin Bapak!" Jawabnya "Iki uang titipan untuk rakyat. Perkara rakyat itu bohong, itu urusan dia dengan Allah!" Waktu minta dibayarin S2, Bapak bilang: "kamu cari beasiswa utk S2. Siapa temenmu yang butuh dibiayai, Bapak yang mbayari, sedekah atas namamu."

Waktu Anit (Anita Wahid) berantem sama Yenny (Yenny Wahid), dan nggak mau pulang ke Ciganjur, Bapak datang ke kost-nya di Depok. Bapak yang melerai hatinya. Waktu aku nangis karena kesel sama Mama, Bapak mengingatkanku: "Ingat-ingat selalu, kamu dan adik-adikmu bisa sekolah, karena Mama jualan kacang dan es lilin. Mama nggak pernah mengeluh, Bapak nggak bisa kasih uang"

Kenangan terindah adalah mendampingi Bapak berdua saja ke luar negeri untuk seminar-seminar. Beliau di Business Class, saya di Economy Class. Tega ya? Forum 2000, adalah perjalanan paling berkesan. Di Praha, Bapak semeja dengan Shimon Peres, Dalai Lama, Prince Hassan bin Talal, Vaclav Havel. Juga ada Nelson Mandela, Elie Wiesel. Mereka share visi dunia di milenium baru. Mereka begitu menghormati Bapak. di Praha itu (jauh sebelum Presiden) kami bertemu dengan banyak keluarga PKI yang terbuang. Mereka mengeluh rindu keluarga, tanah air.

Waktu ngobrol tahun 1995, kata Bapak: “Milenium baru yang paling dibutuhkan bangsa adalah pendidikan yang berkualitas, karena butuh cara pikir baru. Menjelang lulus kuliah, Bapak bilang: "Bapak nggak masalah lho kalau kamu mau ngejar karir dan nggak ingin menikah.."

Tragedi Mei 1998 terjadi ketika Bapak baru saja stroke berat. Tiap hari marah-marah karena tidak bisa keliling. "Tempatku dengan masyarakat, bukan di rumah!!" Tahun 1998, Rumah Ciganjur seperti pengungsian. The house is open.. Banyak yang mencari petunjuk harus bagaimana di negara penuh angkara itu.

Masa istana masa tergelap dalam hidup saya.. Saya mendapat pelajaran: sebagai orang tua, apapun keputusan kita berdampak besar dlm kehidupan anak-anak kita. Sepanjang hidupnya, saya tidak pernah melihat Bapak sebegitu tegang seperti waktu di Istana itu. Hancur hati saya melihat itu.

Saya bertanya kenapa Bapak harus ke Istana? Bapak menjawab: "Ini masa transisi berat buat Indonesia, Nak. Harus ada yang mentalnya kuat. Siapa lagi yang cukup kuat ngadepin ini sekarang?"

Saya belajar banyak tentang nilai sebuah perjuangan dari pilihan garis hidup Bapak. Semua pilihan ada konsekuensinya. My Bapak's greatest gift to me: “Not only he is my father, he's the father of my nation. He loved this country so much”

Cinta yang dilakoni Bapak dengan sungguh-sungguh pada bangsanya, sampai akhir hayatnya, dibalas cinta oleh banyak anak bangsanya. Bapak, I love you so much. And I know many people share this love with me, because you have touched their hearts & lives. Bapak, semoga Allah menjagamu dalam CintaNYA, sebagaimana engkau menjaga kami dalam cintamu sepanjang hayat.... (*)

Surabaya, 22 Juni 2010

Comments

yansDalamJeda said…
Gus, kalau boleh mohon ijin untuk mengabadikan d blog saya.
Terimakasih.
Dengan senang hati. Tugas kita adalah menghidupkan terus nilai dan visi yang diperjuangkan gus dur...
Dengan senang hati. Tugas kita adalah menghidupkan terus nilai dan visi yang diperjuangkan gus dur...
Unknown said…
Matur nuwun sanget, Gus...
Hehe, sami-sami Mas Mbem.... Gimana kabare panjenengan... :)
Unknown said…
ijin share di fb mas, suwun

Popular posts from this blog

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang. Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini. Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian ruti

Obituari Ning Mahmudah: Kisah Sepotong Tempe

Bahagia itu, punya ibunda yang hobby -nya menyenangkan hati orang. " Idkhalus surur kata kanjeng nabi itu shadaqah. Tak punya cukup uang,  jangan menghalangi berbuat baik, bersedekahlah dengan cara menyenangkan hati orang lain...." kata ibunda suatu ketika. Nama beliau, Mahmudah binti Hasyim, putri pasangan Mbah Hasyim dan Mbah Mila. Masyarakat di kampung dan juga santri dan para alumni pesantren, memanggil beliau: Ning Mahmudah. Saya dan adik-adik memanggil beliau, Ibu (pasnya, Ibuk). Para keponakan, misanan-misanan saya, sangat dekat dengan Ibu. Dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Mereka memanggil Bik Dah atau Wak Ibu Dah. Ibu memang menyenangkan, humoris. Konon, itu mewarisi Mbah Kakung, Mbah Hasyim. Saya tahu itu, dari nenek, Mbah Mila. Kalau Ibu 'beraksi' dengan cerita-cerita lucu yang sebenarnya diulang-ulang itu, Mbah Mila sering menyela. "Wis ta Dah. Cek persise Bapakne!" (Sudah, sudah. Persis banget sama ayahmu). Itupun Mbah Mila protes sa