Skip to main content

Jalan Cahaya Kartini

Sepertinya akan lebih bermakna, bila membaca Kisah Hidup Raden Ajeng Kartini dari sisi pemahaman mendalam almarhumah terhadap idiom Dari Gelap Menuju Cahaya. Filosofi ‘Cahaya Setelah Kegelapan’ dipahami dari sebuah Kitab Tafsir Berbahasa Jawa Pertama di Dunia, dicetak pada November 1893 oleh Percetakan HM Amin Singapura. Di sampul kitab setebal 503 halaman berjudul Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid Dayyan itu tertera jelas sang mushannif, KH. Sholeh bin Umar Assamarani. Kyai Sholeh Darat, beliau biasa disebut. Darat adalah nama Desa tempat pesantrennya berada. Assamarani adalah Semarang. Kiai Hebat. Bagaimana tidak dua murid beliau kelak menjadi Muassis dua organisasi Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Tidak seperti puluhan atau bahkan ratusan judul buku berbahasa dan terbitan Belanda yang sudah dilahap Kartini sebelumnya, Kitab Tafsir Alqur’an Bahasa Jawa ini begitu menarik hatinya. Kartini bahkan menjadi Asbubul Wurud, musabab penting sampai akhirnya Kyai Sholeh Darat berkenan menulis Kitab Tafsir Al Qur’an berbahasa Jawa, satu hal yang tabu kala itu, di era pemerintahan kolonial yang tak sepenuh hati membuka pintu intelektualitas Kaum Bumiputera. Rengekan Bocah Perempuan bernama Kartini yang merasa menemukan getaran spiritualitasnya kala menyimak kandungan samudra Makna Surat Al Fatichah membuat hati Kiai Sholeh Darat luruh.

Dalam kertas putih, Kartini pun menggores Tinta, seperti dia memendam Cinta pada Ilmu dan sesamanya: “Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Disini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Disini orang diajari membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya”. Kritik tajam sekaligus curahan hati seorang Perempuan Kartini, pada sahabat penanya di Belanda, Stella EH Zeehandelaar. Ditulis pada 6 November 1899.

Melalui Kitab Tafsir Faidlur Rahman, Perempuan Kartini menenggelamkan diri dalam asyik-masyuk intelektualitas-spiritualitas. Litaratur Belanda sebelumnya seperti menemukan substansi dan konteks utuhnya, dari kedalaman makna ayat demi ayat dari Surat Al Fatichah dan Al Baqarah dalam Juz Satu Kitab itu, Wedding Gift yang sangat bermakna dari Sang Mushannif. Ayat 257 dari Surat Al Baqarah, begitu memesona. Mbah Kiai Sholeh Darat mampu menjadi penghantar terbukanya relung hati dan intelektual Perempuan Kartini tentang sejatinya kehidupan.

”Allah pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir, pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka. Mereka kekal didalamnya.” Susunan Bahasa Jawa seperti apakah yang telah ditulis Mbah Kiai Sholeh Darat untuk menerjemahkan dan menafsiri ayat tersebut, sehingga Perempuan Kartini bisa mendapatkan inspirasi bahwa keterkungkungan adalah kegelapan, namun kegelapan tak akan selamanya. Akan ada cahaya dari Tuhan, kalaupun sekarang gelap, maka akan ada benderang di ujung lorong sana, asalkan manusia menuhankan Tuhan, dan memanusiakan manusia.

Meminjam puisi Si Burung Merak, WS Rendra, Perempuan Kartini kini tak lagi meratapi kegelapan. Perempuan Kartini kini tersenyum menyalakan Lilin. Memang tak guna meratap gelap, ratapan tak memercik api. Tak ada guna berkeluh kesah, mengeluh tak akan mengantarmu ke jalan perubahan. Keyakinan Perempuan Kartini akan datangnya cahaya begitu kuat, hingga mendominasi wacana surat-surat terakhirnya sebelum wafat. Minadz Dzulumati Ilan Nur dalam ayat tersebut adalah Password, kata kunci hidup Perempuan Kartini. Dia tulis dalam bahasa Belanda: “Door Duisternis Tot Licht”. Ditulis kembali oleh Armyn Pane menjadi: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Saya membayangkan Kartini seorang Santri Perempuan Cerdas di dalam pagar Ningrat Pesantren. Atau seorang istri shalihah yang terpagar sangkar emas, dijejali berjibun status sosial dan jutaan gelar aristokrasi agama. Putri Kerajaan yang jadi rikuh bergerak, justru karena jubah kebesaran, perhiasan emas dan mahkota super yang dikenakannya. Atau para aktivis yang seperti terbang bebas di luaran, namun terjun bebas akibat ribetnya Standart Operational Procedure sosio-kultural di sekitarnya. Kalau semuanya itu, dianggap sebagai kegelapan, maka Perempuan Kartini telah memberi kita uswah keyakinan. Kita akan bergerak dari Kegelapan menuju Cahaya Kegembiraan. Asal kita sabar dan teguh berjalan di Garis Tuhan. Perempuan Kartini telah menunjukkan pada kita, dimana sebenarnya Jalan Menuju Cahaya.

Jakarta, 14 Maret 2017
Hakim Jayli, CEO TV9 Nusantara
(Sumber: Majalau AULEEA, Edisi April 2017)

Comments

Popular posts from this blog

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang.
Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini.
Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian rutin…

Menjadi NU 'Tepat Waktu'

Bagi yang sempat mengenal lebih dekat dengan suasana kepengurusan cabang NU Kabupaten Pasuruan, maka akan tahu bahwa ada sebuah tradisi baru yang ingin diciptakan: datang tepat waktu. Setidaknya itulah, garis yang ditegaskan dan dimandatkan kepada pengurus oleh Rois Syuriyah KH. AD. Rohman Syakur, ketika pertama kali rapat pengurus hasil bentukan formatur konferensi.
Mulanya, garis itu dianggap sebagai ‘saran’ seperti biasanya mau’idzah yang sering kita dengar. Namun baru disadari bahwa itu ‘Bukan Petuah Biasa’, ketika ternyata di kemudian hari komitmen itu ditagih implementasinya kepada segenap pengurus. Cara menagihnya pun bervariasi. Rois datang tepat waktu, sementara pengurus lain molor dengan jam karet kesukaannya, dan tentu tanpa rasa bersalah. Pada kesempatan lain, ketika ada pengurus yang datang lebih awal, maka beliau akan berkata, “Saya kalah, sampeyan menang”. Atau suatu saat, Rois akan hadir di kantor di luar hari Rabu, hari piket beliau, dan kepada kami beliau akan berkata…

Nyai Amilah

Inilah manakib (biografi) seorang ulama perempuan bernama Nyai Amilah binti Umar. Lahir dari ketulusan masa lalu, dari rahim seorang ibu bernama Nyai Hafshah dan seorang ayah bernama Umar yang di masa senjanya sering melamun: kelak di tanah leluhur tinggalan Sang Ibu, Mbah Pilatun akan berdiri tegak pondok pesantren, yang diasuh anak cucunya. Angan-angan seorang petani desa. 

Pak Umar dikenal baik dan dermawan. Dia lebih sering dipanggil Pak Sukar, nama pinjaman 'karang anak' dari putra pertamanya bernama Sukar yang ternyata tak berumur lama. Maka jadilah Pak Sukar dan Mbok Sukar, sepasang suami istri di sebuah desa yang sunyi kuat berbalut tradisi Madura, bernama Karangpandan. Di awal-awal tahun 1920-an, Adik Sukar lahir, diberi nama Amilah. Amilah bisa bermakna Perempuan Yang Suka Bekerja. Tapi Amilah juga bisa berarti Perempuan Pewujud Angan-Angan Sang Ayah.

Maka Amilah pun disiapkan menjadi pemilik Ilmu dan juga pejuang ilmu. Amilah kecil pun dikirim mondok di sebuah La…