Skip to main content

Nyai Amilah


Inilah manakib (biografi) seorang ulama perempuan bernama Nyai Amilah binti Umar. Lahir dari ketulusan masa lalu, dari rahim seorang ibu bernama Nyai Hafshah dan seorang ayah bernama Umar yang di masa senjanya sering melamun: kelak di tanah leluhur tinggalan Sang Ibu, Mbah Pilatun akan berdiri tegak pondok pesantren, yang diasuh anak cucunya. Angan-angan seorang petani desa. 

Pak Umar dikenal baik dan dermawan. Dia lebih sering dipanggil Pak Sukar, nama pinjaman 'karang anak' dari putra pertamanya bernama Sukar yang ternyata tak berumur lama. Maka jadilah Pak Sukar dan Mbok Sukar, sepasang suami istri di sebuah desa yang sunyi kuat berbalut tradisi Madura, bernama Karangpandan. Di awal-awal tahun 1920-an, Adik Sukar lahir, diberi nama Amilah. Amilah bisa bermakna Perempuan Yang Suka Bekerja. Tapi Amilah juga bisa berarti Perempuan Pewujud Angan-Angan Sang Ayah.

Maka Amilah pun disiapkan menjadi pemilik Ilmu dan juga pejuang ilmu. Amilah kecil pun dikirim mondok di sebuah Langgar yang diasuh Bunyai Sepuh di Macan Putih, Pekangkungan. Di langgar itu, Amilah diperkenalkan bagaimana hidup dan berkehidupan yang digerakkan oleh tuntunan agama Islam yang tak tercerabut dari kehidupan masyarakat berkebudayaan. Anak perempuan mondok belumlah menjadi tradisi, kala itu. Tapi Angan-angan kuat Pak Sukarlah yang membawa Amilah melanjutkan ke pondok Pengadangan (kini Jalan Mawar, Kota Pasuruan), kepada seorang Alim bernama Haji Agus Salim. Amilah dititipkan kepada keluarga ulama itu untuk dididik dan dikenalkan agama, sekaligus untuk dianggap sebagai anak bahkan pembantu. Kota Pasuruan masih dikuasai Penjajah Jepang kala itu. Amilah kecil yang sudah tumbuh remaja mondok menggali ilmu agama, sekaligus berkhidmah membantu keluarga Kiai mengurus, menggendong balita Bunyai yang kelak dari anak-anak itu lahir para kiai Pasuruan yang kita kenal kini.

Amilah tumbuh menjadi remaja. Saatnya berumah tangga. Pak Sukar dihadapkan pada pilihan. Tapi angan-angan kuatnya tentang ilmu, menjatuhkan pilihan jodoh Amilah bukan pada anak orang kaya dan kepala desa, tapi justru anak seorang petani biasa. Haji Thoha namanya. Di depan rumahnya yang sederhana, di dusun Manik, ada sebuah langgar dari bambu miliknya, tempat mengajar ngaji alquran dan ilmu agama pada pemuda desa dan juga orang-orang tua. Pak Sukar tertarik pada anak sulung Haji Thoha. Namanya Hasyim. Pemuda yang saat itu masih berguru, mondok di Pesanteen Bugul, pada Kiai Thoyyib, murid langsung Syaikhona Kholil Bangkalan. Pertunangan pun terjalin. Namun tak mudah. Keputusan berani Pak Sukar dan mBok Sukar memilih pemuda berilmu dari pada anak orang kaya, menuai pro-kontra. Pak Sukar tak bergeming. Kafilah terus berlalu. Semua dipersiapkan. Termasuk dibangun sebuah rumah bergaya eropa yang teramat besar ukuran kala itu, dipersiapkan sebagai kediaman sang anak dan menantu.

Amilah dan Hasyim pun menjadi sepasang pengantin ilmu. Santri Pengadangan dipersunting Santri Bugul. Dan sejarah perjuangan ilmu pun memasuki babak berikutnya. Amilah dan Hasyim memulai bersilat menebar ilmu. Tak mudah. Karena yang dihadapinya begitu rumit. Teladan para kiai dan nyai dijadikan model perjuangan. Melanjutkan obsesi dan perjuangan orang tua dijadikan energi pendorong. Masyarakat sekitar yang masih terbelakang dan butuh tuntunan ilmu dan perhatian, menjadikan keduanya harus fokus dan istiqamah terus berbuat, menebar dengan sabar. Hasyim di depan, Amilah di belakang. Hasyim memimpin rumah tangga, membangun jaringan dan berdiplomasi, Amilah menggalang dan memimpin perempuan desa agar mengenal agama dan menerapkannya dalam kehidupan duniawi sehari-sehari.

Amilah pun tumbuh menjadi perempuan lentera yang menerangi batin para perempuan desa, hingga ke desa-desa sebelah. Seperti para Bunyainya, Amilah memiliki Langgar di samping timur Ndalem yang kelak menjadi pesantren putri. Dari situ, Amilah mendirikan majlis muslimatan untuk memastikan bahwa kerumitan hidup hanya bisa dihadapi dengan cara menggantungkannya pada kebesaran dan kekuasaan Ilahi. Amilah kian menyatukan diri dengan nafas kehidupan dan problem masyarakat di sekitarnya. Amilah hadir di setiap jerit tangis sekitarnya, menguatkan hati yang sakit, melipur yang lara, menjadi tempat curahan hati, bahkan merawat dan memandikan jenazah para perempuan hingga pelosok semak desa. Sebagaimana Amilah juga hadir, di tengah derai tawa bahagia masyarakat. Amilah menjadi dielu-elukan dan diandalkan. Maka Amilah pun menjadi lebih dari sekadar perempuan berilmu dan penyeru agama.

Amilah menjelma menjadi Nyai Amilah, seorang Ulama Perempuan yang baginya berat terasa segala masalah kehidupan yang dialami masyarakat dan santri-santrinya. Nyai Amilah tak henti berderma dan membantu sesamanya. Yang lemah dibantu, yang tak berdaya dipungutnya, yang melenceng diluruskan dengan lembut penuh kasih sayang. Walhasil. Nyai Amilah pun tumbuh menjelma sosok jadi yang diangan-angankan Pak Sukar, Sang Ayahanda. ANgan-angan yang tak sekadar ilusi karena diikuti niatan hati yang kuat, langkah terukur dan kesungguhan mendidik putri tunggalnya dengan ilmu agama dan penghormatan ilmu. Nyai Amilah telah menjadi tanaman yang rimbun dan berbuah lebat, beranak pinak dan akan abadi, menjadi pencetak generasi ilmu dan istana ilmu, bernama Pondok Pesantren Darul Ulum Karangpandan Pasuruan.

Nyai Amilah wafat pada 3 Rabiul Akhir, di tahun 2011 meninggalkan jasa, ilmu, spirit, pondok pesantren dan generasi penerusnya yang tak boleh kendur meneruskan rintisannya. Nyai Amilah telah memberi teladan kita, bahwa manusia terbaik, adalah mereka yang paling memberi manfaat. Sebagai ibu, Nyai Amilah adalah teladan bahwa melahirkan, merawat dan mendidik anak dengan menjadikan agama sebagai karakter utama seorang manusia adalah sebuah keharusan. Nyai Amilah terbukti melahirkan generasi ilmu. Dari Nyai Amilah pula.kita bisa menjadikannya teladan mudah bahwa kita bisa meniru bagaimana Baginda Muhammad SAW menempatkan diri dan selalu peduli kepada sesama.

 لقد جائكم رسول من انفسكم
 عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم 
بالمؤمنين رؤوف رحيم 

Dengan barakah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan momtem peringatan Haul Nyai Amilah Hasyim, semoga kita semua menjadi lebih baik, lebih peduli kepada sesama, menjaga persaudaraan, lebih mencintai ilmu dan perjuangan agama, kian mencitai Nabi Muhammad SAW, lebih bertaqwa kepada Allah SWT sehingga kita dimasukkan ke golongan orang-orang yang shalih. Amin ya Rabbal Alamin.

Comments

Unknown said…
aamiin ya rabbal alaminp

Popular posts from this blog

#tentangAyah: Gus Dur di Mata-Hati Alissa Wahid

Dalam kesempatan bertestimoni #tentangAyah, di nuansa Hari Ayah (Father’s day) yang biasa diperingati pada pekan ketiga bulan Juni, Alissa Qatrunnada Wahid, putri pertama KH. Abdurrahman Wahid bercerita tentang ayahanda tercintanya. Kesaksian Mbak Lisa melalui rangkaian tweet (yang sengaja saya sambung satu persatu) di jaringan social twitter, membuat para followernya (termasuk saya) termenung, terhenyak dan trenyuh, dengan kisah pandangan mata yang nyata di balik kebesaran nama almarhum. Gus Dur seorang yang sederhana, tidak berlebih secara materi, dan (yang terpenting) hatinya bersih, putih dan bening, sebening salafunas shalihin. Gus Dur adalah pejuang, mujahid untuk orang banyak. Jadi wajar kalau beliau dicintai khalayak. Kepada kita, Alissa berpesan agar pengikut dan pendukungnya bisa meneladani dan meneruskan perjuangan beliau. Berikut penuturan lengkap Alissa Wahid: Ayahku bukan hanya milikku. Anak ideologisnya banyak sekali. Membuatku merasa nyaman, karena d

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang. Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini. Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian ruti

Obituari Ning Mahmudah: Kisah Sepotong Tempe

Bahagia itu, punya ibunda yang hobby -nya menyenangkan hati orang. " Idkhalus surur kata kanjeng nabi itu shadaqah. Tak punya cukup uang,  jangan menghalangi berbuat baik, bersedekahlah dengan cara menyenangkan hati orang lain...." kata ibunda suatu ketika. Nama beliau, Mahmudah binti Hasyim, putri pasangan Mbah Hasyim dan Mbah Mila. Masyarakat di kampung dan juga santri dan para alumni pesantren, memanggil beliau: Ning Mahmudah. Saya dan adik-adik memanggil beliau, Ibu (pasnya, Ibuk). Para keponakan, misanan-misanan saya, sangat dekat dengan Ibu. Dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Mereka memanggil Bik Dah atau Wak Ibu Dah. Ibu memang menyenangkan, humoris. Konon, itu mewarisi Mbah Kakung, Mbah Hasyim. Saya tahu itu, dari nenek, Mbah Mila. Kalau Ibu 'beraksi' dengan cerita-cerita lucu yang sebenarnya diulang-ulang itu, Mbah Mila sering menyela. "Wis ta Dah. Cek persise Bapakne!" (Sudah, sudah. Persis banget sama ayahmu). Itupun Mbah Mila protes sa