Skip to main content

Nyatakanlah Cinta, dengan Tarawih

Kota Madinah Al Munawwarah, di sebuah malam yang sejuk dan tenang. Rasulullah beranjak dari kediaman menuju Masjid Nabawi, yang hanya beberapa langkah. Kala itu bulan Ramadhan. Di dalam Masjid, Rasulullah bermunajat, memaknai bulan mulia itu dengan shalat malam. Para sahabat mengamati, mengikuti dan membincangkannya. Kabar tersiar, hinggai malam ketiga, Masjid Nabawi pun riuh dengan Sahabat dari penjuru kota yang shalat malam bersama panutan mereka. Malam hampir pagi. Namun Rasulullah tak juga hadir di dalam Masjid. Ada tanda tanya, tapi tak berani bertanya, apa lagi mengetuk pintu kediaman Sang Junjungan. Para sahabat akhirnya melaksanakan shalat malam, sendiri-sendiri, berpacu dengan shubuh yang segera menjelang. Tak lama, Rasululullah tiba, hampir bersamaan dengan adzan shubuh dikumandangkan. Dan shalat jamaah shubuh pun dihelat dengan khusyu’, mewarnai cakrawala pagi Ramadhan hari keempat. “Aku sadar, semalam kalian menungguku. Tapi sengaja, aku tidak keluar.” Kalimat itu disampaikan Rasul dengan penuh kelembutan, menyambung kalimah-kalimah tasyahhud (kesaksian akan ketiadaan Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah), tahmid dan puja-puji pada Tuhan Sang Penguasa Alam. Seisi Masjid hening menyimak, menunggu kata-kata Nabi berikutnya. “Aku memang sengaja tidak keluar, karena khawatir shalat itu dianggap wajib oleh kalian. Dan akhirnya kalian (kelak) tidak mampu melaksanakannya,” kata Rasul dengan penuh cinta berwibawa. Para sahabat mengangguk pelan tanda mengerti, sebagian menerawang betapa bijak dan sayangnya Rasulullah pada ummatnya. Rasulullah tak ingin membebani ummatnya dengan ‘kewajiban baru’ setelah Allah menggariskan wajibnya berpuasa Ramadhan, sebagaimana juga diwajibkan puasa pada ummat Nabi sebelumnya. Ramadhan memiliki target yang tidak main-main: meningkatnya ketaqwaan kepada Allah! Kalau mau serius, maka berpuasa di siang hari yang terik sudah cukup menguras energi dan mental. Menahan dan mengkebiri nafsu yang terpancar dari semua anggota badan, bahkan menekan habis pikiran liar dan kontroversi hati. Puasa tak sekadar tentang makan-minum, karena puasa sangat berbeda dengan program diet para ibu. Ummul mukminin, Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah sangat menganjurkan Qiyamu Ramadhan, mendirikan shalat di malam-malam bulan Ramadhan. Namun Rasul tidak memaksa dan tidak ingin Para Sahabat (serta ummatnya) menjadi terpaksa. Beliau hanya memberi garis: “Barang siapa berpuasa di Bulan Ramadhan atas dasar iman, mengharap ridha Allah dan pahala, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni-Nya,” Hingga Rasulullah SAW wafat beberapa tahun setelah peristiwa malam keempat Ramadhan itu, Qiyamu Ramadhan dilaksanakan sebagai ibadah yang dilaksanakan oleh para sahabat secara pribadi, sendiri-sendiri, diselingi jeda dan istirahat (Tarwihah). Para Sahabat teringat pesan Mendiang Rasulullah yang mengaskan agar Qiyamu Ramadhan tidak memberatkan. Shalat yang diselingi banyak jeda dan istirahat inilah, yang oleh para ulama’ ahli hukum dinamai Shalat Tarawih (bentuk plural dari kata Tarwihah) Kalau kemudian, shalat Tarawih menjadi bagian dari gegap gempita bulan Ramadhan seperti saat ini, maka tak terlepas dari ijtihad Sayyidina Umar bin Khattab RA yang di sebuah malam Ramadhan berucap di hadapan Para Sahabat lain yang juga mengamini: “Menurut pendapat saya, andaikan saya kumpulkan mereka, dengan menunjuk salah seorang Qari’pembaca Alqur’an, maka pasti akan lebih utama.” Maka ditunjuklah sebagai Imam shalat Qiyamu Ramadhan pertama kali, Sahabat Ubay bin Ka’ab yang memiliki kelebihan bacaan Alqur’an di antara para sahabat lainya. Para sahabat juga menyepakati jumlah 23 rakaat, dimana tiga rakaat terakhir adalah shalat witir. Sebuah ketetapan bijak dan moderat yang mempertimbangkan aspek berburu pahala dan tidak memberatkan sebagaimana pesan Nabi. Warisan ini terabadikan hingga kini di Masjidil Maharam, Makkah, Masjidin Nabawi, Madinah dan di antero dunia, termasuk di masjid/mushalla kita tentunya. Visi Sayyidina Umar tentang kemaslahatan ummat Islam Dunia yang akan semakin banyak dan beragam mennggerakkan hati, ilmu dan keimanan salah satu sahabat andalan Rasulullah ini berani menetapkan ijtihad penting yang kita rasakan manfaatnya hingga kini. Dengan tegas, Sayyadina Umar berkata: “Ni’mal bid’atu, hadzihi. Sebaik-baik bid’ah, ya (shalat tarawih berjama’ah) ini!” Seperti sabda Nabi SAW, Puasa Ramadhan akan menghapus dosa dan alpa kita di masa lalu, bila didasarkan pada tiga hal: Implementasi keimanan, mencari Ridha Allah, dan berburu Pahala di bulan ‘Bonus Pahala’. Spirit melaksanakan shalat Tarawih pun sebaiknya mengacu ke sana. Mengabaikan Shalat Tarawih sebagai qiyamu ramadhan, berarti kita abai pada fasilitas pahala yang disediakan Allah. Tapi sebaliknya, mempertentangkan tata cara Shalat Tarawih, dikhawatirkan menjauhkan kita dari Ridha-Nya. Selebihnya, Puasa Ramadhan adalah pembuktian Cinta dan Iman pada Allah. Tak ada pangkat dan eselon lebih tinggi dari derajat Taqwallah. Dan Ramadhan tahun ini dan selanjutnya (mustinya) dapat mendekatkan kita pada derajat itu. Semoga. (Dipublikasikan Majalah Auleea, Edisi Juni 2014)

Comments

Popular posts from this blog

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang. Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini. Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian ruti

Sindikasi Media-Media NU

Liberalisasi ekonomi di Indonesia berakibat pada penguasaan sektor strategis oleh pihak swasta terutama swasta asing. Eksistensi kita sebagai bangsa menjadi terancam. Bila tak ada perlindungan memadai dari negara, maka bisa dipastikan rakyat Indonesia akan menjadi obyek langsung liberalisme dan kapitalisme dunia. Salah satu sektor strategis yang hampir sepenuhnya dikuasai swasta (domestik dan asing) adalah sektor media. Oligopoli industri media telah membawa Indonesia pada ancaman serius di bidang kebudayaan mengingat industri media lebih menempatkan aspek bisnis sebagai misi utama mengesampingkan aspek budaya baik berupa norma sosial maupun agama. Sinyalemen Pakar Komunikasi Massa Dennis Mc Quail: conten of the media always reflects who finance them (isi media apa kata siapa pemilik media) benar-benar terbukti. Ketika Media dimiliki oleh kaum kapitalis (sebagian di antaranya kapitalis media internasional), maka pesan yang keluar dari media (cetak, elektronik dan internet) lebih

Televisi dan Cinta Kiai Nizar pada Gus Dur

Malam Ahad, 28 Shafar 1444 Hijriyah, bertepatan 24 September 2022, digelar peringatan 21 tahun wafat KH Nizar Hafidz, Pengasuh PP Hidayatullah, Tampung, Kalirejo, Kecamatan Gondangwetan, Pasuruan. Saya mencoba mengenang sosok istiqamah, sabar, alim, dan sangat mencintai ilmu ini. Semoga menjadi ibarat dan isarat kebaikan bagi kita semua. Kiai Nizar adalah suami Bik Roh, bibi (adik abah) saya, Nyai Hariroh binti KH Birrul Alim. Karenanya, saya memanggil Kiai Nizar dengan Man Nizar. Man Nizar lama mondok di Sidogiri, era Kiai Abdul Jalil, Kiai Abdul Adzim hingga Kiai Kholil. Man Nizar diambil menantu untuk mengembangkan Pondok Tampung oleh Mbah Birrul Alim yang pernah menjadi pengasuh sementara Sidogiri saat transisi kepangasuhan dari Kiai Jalil ke Kiai Kholil Nawawi.  Mbah Birrul Alim sendiri menjadi pengasuh Pondok Tampung, karena sebagai santri senior di Pondok Sidogiri, diambil menantu Mbah Tolchah Tampung, dinikahkan dengan Nyai Masniyah (ibu abah saya, Kiai Muzakki). Begitulah tra