Skip to main content

Generasi Sinetron

Awalnya adalah telenovela. Sebuah paket acara televisi yang diimpor dari Amerika Latin. Mereka menyebutnya Television Novela, di Amerika galib disebut (Movie) Made for Television (MTV). Drama televisi yang berkisah tentang cinta dalam kultur dan konflik keluarga. Di awal tahun 1990-an, bersamaan dengan merebaknya televisi swasta, telenovela hadir menyapa pemirsa Indonesia yang jenuh dengan tayangan konservatif dari layar kaca TVRI.

Korban pertama, adalah ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri. Waktu itu Telenovela berjudul Cassandra, begitu populer. Ada getaran (arrousal), ketika mereka mengikuti seduh-sedan alur cerita yang dimainkan para tokohnya. Alur klimaks cerita yang berderu dan bergelombang, naik-turun, diulur-ulur dan cenderung berbelit, semakin membuat mereka terikat dan jatuh hati pada telenovela. Permainan emosi, semakin seru dengan adanya teknik memotong alur cerita di saat menjelang klimaks, melalui jeda episode. Pemirsa dipaksa menunggu tayangan berikutnya untuk mengetahui jawaban atas konflik yang digiring sejak awal.

Raam Punjabi, adalah salah satu orang yang gelisah akan fenomena booming telenovela ini. ‘Nasionalisme’ pengusaha yang namanya sering diplesetkan dengan peribahasa ‘Tiada Rotan Ram Punjabi’ ini akhirnya terketuk juga. Entah nasionalisme dia sebagai orang yang tinggal di Indonesia, ataukah nasionalisme orang keturunan India yang gelisah dengan terpingirkannya film-film India yang lebih dulu merebut hati pemirsa Indonesia. Telenovela memang menawarkan cita rasa emosi yang agak beda dengan film-film negeri sungai gangga itu, dengan porsi cerita yang lebih lama, dan bersambung untuk ditonton sebagai aktivitas rutin yang ‘wajib’disela-sela kejenuhan hidup sehari-hari.

Melalui perusahaannya Multi Vision, Pak Raam memulai bisnisnya. Pangsa pasar yang terbentuk dari penggemar telenovela dia masuki. Maka mulailah cerita seru tentang Sinema Elektronik (disingkat sinetron), yang tidak hanya sekadar bisnis tetapi berubah menjadi sebuah industri. Sineton dibuat di ‘pabrik’ yang bernama Rumah Produksi atau Production House (PH). Dan Multivision adalah PH yang pertama kali muncul sehingga akhirnya membentuk atmosfir industri baru di lingkup rumah produksi dan stasiun televisi. Multi Vision (dan juga beberapa PH lain sebagaimana Star Vision, Prima Entertainment, dan banyak lagi) bahkan bisa memproduksi sinetron secara massal dalam satu harinya.

Karena massal, maka baik tema maupun talent (artis/aktor) disiapkan secara massal dan borongan. Prinsipnya, yang penting bisa produksi, kualitas cerita dan pemain tak menjadi perioritas. Kepada pemain diterapkan sistim kontrak sekaligus untuk beberapa judul sinetron yang diproduksi, dan sebisa mungkin dicari pendatang baru yang mau dibayar ‘berapapun’, asal cocok dan cantik. Ide cerita dikembalikan kepada selera pemirsa. Bila ada tema cerita yang digemari pemirsa, terbukti dengan tingginya audience rating (tingkat kepemirsaan di televisi), maka stasiun televisi dan PH akan berkedip mata untuk membuat dan menayangkan tema sejenis dengan sedikit pembeda, sehingga tak jauh berbeda.

Mereka menyebutnya dengan teknik me-too program. Tayangan menjadi cenderung sama dan seragam. Prinsip diversity of content (keragaman isi tayangan) menjadi ditinggalkan, padahal seharusnya menjadi syarat dalam rangka menghindarkan pemirsa kepada kecenderungan budaya atau ideologi tertentu. Tayangan dengan nafas yang sama di hampir semua televisi, dalam periode waktu tertentu (bisa beberapa minggu), sama saja dengan upaya indoktrinasi dan internalisasi sistimatis (baca: pencekokan) sebuah paham dan kultur tertentu (sebagian besar dari negeri asing) kepada pemirsa kita. Dan korban paling empuk yang rawan terkena pengaruh itu adalah mereka yang sedang ‘berproses menjadi orang’, yakni para remaja, para Anak Baru Gede (ABG), atau kalian para pelajar.

Ketika selama tahun 2000-2001 Sinetron Perkawinan Dini (ditayangkan RCTI, diproduksi Prima Entertainment) begitu populer, maka tak ada yang menyangka pengaruhnya begitu kuat bagi perilaku remaja dan pelajar kita beberapa tahun berikutnya. Pelaku utama, Dini (diperankan oleh Agnes Monica) dan Gunawan (diperankan Syahrul Gunawan) memperkenalkan perilaku free sex ketika mereka sama-sama sebagai pelajar, yang mengakibatkan Dini hamil di luar nikah dan terjerumus dalam perkawinan muda dan rumah tangga yang rapuh. Pengusaha dan Produser sinetron, merasa sukses, karena kreasinya laku keras. Mereka hanya berpikir keuntungan, sementara para pelajar kita terpengaruh pikirannya sembari bergumam: “Andai saja kesempatan itu datang”. Dan kita tidak tahu persis, berapa pasang pelajar kita yang telah ‘mengamalkan’ ajaran sinetron itu.

Entah kenapa, ketika pendidikan agama dan norma budaya cenderung ditinggalkan, pada saat yang bersamaan, pendidikan perilaku melalui televisi, khususnya sinetron makin laku terbeli. Pendidikan moral dan norma melalui pendidikan agama yang diajarkan Ustadz Ramli di sekolah (yang hanya dua jam mata pelajaran dalam seminggu?) harus bersaing dengan pendidikan perilaku gaul di sinetron yang ‘diajarkan’ oleh Pak Raam Punjabi minimal dua jam dalam setiap harinya. Dan hasilnya bisa ditebak, ajaran Sinetron Pak Raam lebih bisa diterima, dibandingkan ocehan Ustadz Ramly yang santri itu. Apakah memang generasi santri kita sedang bermetamorfosis menjadi generasi sinetron? Semoga saja, tidak.

Comments

Popular posts from this blog

Obituari Kyai Mukhlason: 'Lentera' Itu Telah Padam

Namanya Kyai Muhlashon. Usianya sebaya dengan ayahandaku, 65-an tahun. Konon mereka berdua, satu pondok nyantri ke Kyai Jazuli, Ploso, Kediri. Karenanya, dia selalu baik padaku. Terasa sekali, kalau dia menganganggapku anak. Walau dia bungkus dengan sebuah penghormatan 'formal' padaku. Dia selalu memposisikan 'bertanya' kepadaku. Hanya karena dia pengurus MWC (pengurus NU di tingkat kecamatan). Sehingga merasa harus bertanya dan 'taat' pada kebijakan Pengurus Cabang. Acapkali aku merasa risih. Bukan hanya karena selisih umur yang hampir separuh, tetapi juga karena beliau syuriyah NU, pemegang kebijakan tertinggi di NU. Bahkan Rois Syuriyah. Sementara aku hanya tanfidziyah (pelaksana), dan itupun hanya sekretaris. Belum lagi, bila diperbandingkan 'jasa' beliau membina ruhani dan syari'at ummat. Waduh, gak ada apa-apanya. Aku hanya sebutir pasir di tengah gurun perjuangan yang dia jalani selama ini. Betapa tidak. Tiap malam, dia mengasuh pengajian ruti

Obituari Ning Mahmudah: Kisah Sepotong Tempe

Bahagia itu, punya ibunda yang hobby -nya menyenangkan hati orang. " Idkhalus surur kata kanjeng nabi itu shadaqah. Tak punya cukup uang,  jangan menghalangi berbuat baik, bersedekahlah dengan cara menyenangkan hati orang lain...." kata ibunda suatu ketika. Nama beliau, Mahmudah binti Hasyim, putri pasangan Mbah Hasyim dan Mbah Mila. Masyarakat di kampung dan juga santri dan para alumni pesantren, memanggil beliau: Ning Mahmudah. Saya dan adik-adik memanggil beliau, Ibu (pasnya, Ibuk). Para keponakan, misanan-misanan saya, sangat dekat dengan Ibu. Dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Mereka memanggil Bik Dah atau Wak Ibu Dah. Ibu memang menyenangkan, humoris. Konon, itu mewarisi Mbah Kakung, Mbah Hasyim. Saya tahu itu, dari nenek, Mbah Mila. Kalau Ibu 'beraksi' dengan cerita-cerita lucu yang sebenarnya diulang-ulang itu, Mbah Mila sering menyela. "Wis ta Dah. Cek persise Bapakne!" (Sudah, sudah. Persis banget sama ayahmu). Itupun Mbah Mila protes sa

#tentangAyah: Gus Dur di Mata-Hati Alissa Wahid

Dalam kesempatan bertestimoni #tentangAyah, di nuansa Hari Ayah (Father’s day) yang biasa diperingati pada pekan ketiga bulan Juni, Alissa Qatrunnada Wahid, putri pertama KH. Abdurrahman Wahid bercerita tentang ayahanda tercintanya. Kesaksian Mbak Lisa melalui rangkaian tweet (yang sengaja saya sambung satu persatu) di jaringan social twitter, membuat para followernya (termasuk saya) termenung, terhenyak dan trenyuh, dengan kisah pandangan mata yang nyata di balik kebesaran nama almarhum. Gus Dur seorang yang sederhana, tidak berlebih secara materi, dan (yang terpenting) hatinya bersih, putih dan bening, sebening salafunas shalihin. Gus Dur adalah pejuang, mujahid untuk orang banyak. Jadi wajar kalau beliau dicintai khalayak. Kepada kita, Alissa berpesan agar pengikut dan pendukungnya bisa meneladani dan meneruskan perjuangan beliau. Berikut penuturan lengkap Alissa Wahid: Ayahku bukan hanya milikku. Anak ideologisnya banyak sekali. Membuatku merasa nyaman, karena d